Menghargai Sebuah Pekerjaan

20 comments
Menghargai sebuah pekerjaan
Hai teman, saya akan menceritakan bagaimana menghargai sebuah pekerjaan. Dalam tulisan ini saya ingin mengungkapkan pertanyaan dan pemikiran saya waktu kecil. Dulu waktu saya masih sekolah dasar dan tinggal di desa. Saya sering mendengar bahwa mata pencaharian orang tua sering disepelekan yaitu seorang petani.

Padahal di desa saya adanya ya sawah-sawah pertanian. Dan banyak pula orang bekerja sebagai tani. Entah itu pemilik tanah maupun buruh tani. Kebanyakan orang menggantungkan penghasilan dari sana.

Seperti apa yang selalu diagungkan oleh masyarakat? Contohnya menjadi guru, pegawai, yang berseragam dan yang memiliki jabatan. Itulah yang dipandang enak dan bergengsi. Padahal menurut saya profesi bertani sangat penting bagi kehidupan. Bayangkan jika pertanian tidak ada mau makan apa?

Persepsi Tinggi Terhadap Sekolah


Akhirnya banyak anak-anak yang diharapkan untuk bersekolah tinggi. Dengan harapan mereka bisa mengangkat derajat orang tuanya lebih baik. Yang dimaksud di sini adalah berharap setelah lulus sekolah terutama yang berpendidikan tinggi bisa mendapatkan penghasilan tinggi pula.

Kenyataannya bagi sarjana-sarjana baru tidak mudah untuk segera bekerja. Meski sudah mendapatkan pekerjaan pun belum tentu bisa menghasilkan lebih banyak dari uang saku waktu sekolah. Memang tidak semuanya bekerja dengan penghasilan pas-pasan. Tapi sudut pandang yang sudah menyebar di masyarakat umum. Sehingga menjadi persepsi diri. Ini memberatkan para sarjana untuk mengambil kerja yang berpenghasilan rendah.

Pada akhirnya setelah lulus sekolah tanpa keahlian banyak yang menganggur. Bergantung kembali pada orang tua. Tidak mau bekerja yang kotor-kotor maupun yang berat. Merasa malu dan keluarganya pun malu jika anaknya bekerja biasa-biasa saja.

Seperti yang saya rasakan pada awal-awal lulus. Apa yang mau saya lakukan? Saya tidak punya keahlian. Dan profesi seperti apa yang ingin dilakukan. Apakah aku bisa melakukan itu? Suara-suara orang lain mulai berterbangan di kepala. Itulah yang saya rasakan awalnya.

Saya membaca novelnya Buya Hamka bahwa banyak orang yang bersekolah kurang diperhatikan pemahaman akhlak dan budi pekerti. Orang-orang terlalu menghormati anak-anak yang sekolah tinggi. Terlalu berharap lebih bahwa sekolah akan memberikan profesi yang baik. Mata pencaharian bertani, berladang maupun berniaga dipandangnya rendah.

Orang tua dan tetangga pun terlalu menghormati mereka. Tidak mengajarkan bagaimana cara untuk berdikari. Harapannya adalah sekolah untuk bekerja yang penghasilan tinggi. Memanjakan mereka dengan fasilitas yang tinggi untuk pendidikan. Tapi tidak memberikan pemahaman akan kerasnya kehidupan yang semakin waktu semakin susah saja.

Bagaimanakah Kita Menghargai Sebuah Pekerjaan?


Saya akan memaparkan profesi yang sering dipandang rendah oleh orang lain agar dihargai. Misalnya menjadi petani, petani adalah orang-orang yang bekerja mengandalkan tanah terutama sawah untuk menghasilkan. Nah jika tidak ada petani bagaimanakah kita bisa makan nasi? Dari manakah kita mendapatkan makanan?

Mata pencaharian utama yang mengandalkan alam paling utama untuk segala umat. Sebut saja berladang, berkebun, berternak, budidaya ikan dan lain sebagainya. Kalau kita memiliki ilmu yang bisa membantu meningkatkan hasil alam mereka maka bantulah. Itu penghaargaan tertinggi terhadap mereka.

Jika belum bisa membantu maka bersyukurlah karena masih ada orang-orang yang susah payah menyajikan makanan harian kita. Berusaha membeli hasil panennya tidak menawar terlalu rendah sekali. Hal ini seringkali terjadi karena merasa bahwa hasil usahanya tidak semewah bila di supermarket. Padahal sumbernya sama saja.

Profesi yang banyak memerlukan keringat dan tenaga seperti tukang becak, sopir angkutan umum, kuli bangunan dan lain-lain. Tukang becak meski sudah jarang berprofesi ini karena tergerus oleh transportasi online. Lihatlah bahwa profesi mereka mulia karena tidak menjadi pengemis atau menjadi pencopet. Kerja mereka tetap bermanfaat untuk orang lain dan halal.

Kuli bangunan,semisal ada proyek tidak melihat jam kapan harus berhenti bekerjanya. Bahkan harus melebihi jam normal kerja. Adanya mereka maka bagunan-bangunan yang kita kagumi menjadi ada. Mereka yang membuat rumah kita bisa terlihat indah dan nyaman untuk ditempati.

Hargailah mata pencaharian orang lain yang tidak merugikan masyarakat umum. Cara lainnya adalah berikanlah pengetahuan atau pendidikan yang sesuai dengan kegiatan mereka maupun yang bisa mereka lakukan di sela-sela waktunya. Agar bisa hidup berkecupukan.

Misalnya saja di dunia online seperti ini banyak yang memiliki penghasilan dari dunia nyata dan dunia maya. Bisa mengajarkan mereka caranya untuk memakai youtube. Saya sering melihat TKI/TKW yang mendapatkan penghasilan menjadi youtube. Bisa mengajarkan mereka tulisan untuk berkisah. Memberikan mereka panggung untuk berkarya dari kegiatan mereka.

Blogger pun bisa menjadi salah satu tambahan mata pencaharian. Jika mereka sudah tua dan tidak sanggup untuk belajar lagi. Maka hargailah dalam diri sendiri. Doakan mereka agar tetap sehat selalu. Toh mereka tidak menyusahkan kita. Harusnya yang berkelas ternyata uang rakyat diambil itulah yang patut dihina.

Penutup


Kita tidak tahu akan masa depan. Siapa tahu di antara kuli bangunan ada orang yang sangat pandai bermain komputer. Ada yang punya keahlian melukis, berstand up comedy dan lain sebagainya. Berikan wawasan yang bisa membuat mereka berinovasi. Bukan merendahkan mereka tapi menghargai sebuah pekerjaan yang mereka pilih/ terpaksa dipilih agar tetap melanjutkan hidup. Berikanlan kesempatan untuk mencoba dan mengapresiasinya.
Viandri
Seorang perempuan yang menikmati perjalanan. Suka berpergian sendiri. Selalu percaya bahwa Sang Pencipta tidak pernah meninggalkan sendirian.

Related Posts

20 comments

  1. Sepakat kakak...
    Seseorang yang mencari kayu bakar untuk dijual lebih baik daripada meminta-minta. Apalagi sampai mencuri atau korupsi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Pak Tomo, masih ada usaha untuk bekerja yang halal.

      Delete
  2. Aku kok kaya jadi inget intisari novel Kembangmanggis ya, jangan sisakan nasi dalam piring. Bukan sekedar mitos, tapi menghargai jerih payah para petani yang menanam dan memanen dengan effort yang luar biasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang kak eka, effortnya luar biasa sekali.
      Apalagi kalau musim hujan. Ya Allah sungguh perjuangan yang tidaklah mudah.

      Delete
  3. Setuju, Kak. Apapun pekerjaannya emang harus dihargai, karena belum tentu kita jadi dia akan sanggup

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak,
      Bersyukur tidak menjadi beban orang lain. Dan bisa mendapatkan penghasilan.

      Delete
  4. Menghargai sebuah pekerjaan bukan di nilai dari nilai rupiah yang dihasilkan tapi cara ia mendapatkan uang halal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju kak, karena mendapatkan yang halal itu yang lebih bermanfaat.

      Delete
  5. saya pernah ikut talkshow bareng Alvin Adam dkk

    yang menarik dari materinya adalah ajakan utk menghargai setiap pekerjaan

    dan saya setuju banget

    banyak banget kisah sukses berawal dari penghargaan terhadap pekerjaan.

    seorang tukang cuci piring resto bisa sukses mempunyai resto terkenal karena dia menghargai pekerjaannya, menekuninya dan banyak belajar dari situ

    ReplyDelete
  6. Semua kembali lagi kepada cara berpikir kita. Tidak ada pekerjaan yang gak baik, bahkan ibu rumah tangga pun itu namanya pekerjaan loh. Saking beratnya profesi ini, gak ada yang sanggup menggaji ibu rumah tangga karena MAHAL. Hehehe. Menginspirasi.

    ReplyDelete
  7. Setuju banget, apapun pekerjaannya, baik atau buruknya tergantung si pemilik pekerjaan itu. Kalau dia fokus dan tekun maka lanjutkan.

    ReplyDelete
  8. Setuju sekali, tidak ada yang hina dan rendah dalam menjalani suatu profesi tertentu selama itu baik atau tidak merugikan orang lain.
    Dibanding hanya menadahkan tangan tanpa usaha maupun kerja keras. Pekerjaan seperti petani, tukang, sopir atau lainnya itu masih jauh lebih mulia

    ReplyDelete
  9. jangan suka memilih pekerjaan, kalau memang cocok ya dikerjakan, apapun itu pekerjaan adalah anugerah rejeki yang kita dapatkan dari hasil pekerjaan itu sendiri

    ReplyDelete
  10. Menghargai dan menghormati pekerjaan orang lain itu memang perlu dan jangan pandang sebelah mata, karena tiap² kita memiliki kemampuan di bidang masing²

    ReplyDelete
  11. profesi apapun, selagi itu halal dan tidak menganggu hajat hidup orang lain, adalah baik.
    pola pikir dan mindset yang menganggap industrialisasi itu keren justru inilah yang menggerus identitas bangsa kita. Sehingga kini menjadi bangsa pengimpor beras, jahe, dan bahkan juga cabai.
    bahkan terakhir yang saya dengar, harga sayuran di kampusng sudah tidak lebih murah dari di kota.
    Petani adalah profesi penuh pahala. Karena dari petani lah kita bisa makan.
    Moga ke depan makin banyak orang yang melihat profesi bukan dari jumlah upahnya, tapi dari kebermanfaatannya.

    ReplyDelete
  12. Makasih banget kak rimendernya. pekerjaan apapun kalo kitanya senang ya nggak masalah ya, kalau diremehkan kadang aku cuek aja.

    ReplyDelete
  13. iyaaa, ada juga orang yang pekerjaannya biasa aja tapi ilmunya luar biasa, beliau bijak, pemahaman agamanya bagus, pandai menyampaikan pendapat dsb
    gak bisa banget sih untuk judge book by cover

    ReplyDelete
  14. tak terbayangkan kalau tak ada lagi penerus generasi muda yang tidak mau bekerja di bidang peranian. Bagaimana kami yang hidup di kota, pasti sulit sekali dan akan kekurangan bahan pokok.
    Orang-orang yang tinggal di kota dan desa pasti saling ketergantungan. Tak ada profesi yang lebih rendah, semua saling membutuhkan ya mbak.

    ReplyDelete
  15. Setuju Mba Novi, pekerjaan apapun itu selagi halal wajib kita hargai. Bertani juga pekerjaan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sayang banyak petani menguliahkan anaknya trus setelah lulus anaknya tidak mau kembali lagi mengurusi lahan pertanian bapaknya, akhirnya profesi petani tidak turun temurun. Mestinya si anak bisa memberikan sentuhan iptek untuk pertanian di desanya ya

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email