Orang-orang Pinggiran : Kehidupan yang Diabaikan Penguasa

26 comments
review orang-orang pinggiran
Orang-orang pinggiran kumcer yang membuat saya merasa perih membacanya. Menceritakan orang-orang yang menurut orang lain tidak penting kehidupannya. Hanya kelas bawah yang tak perlu diperhatikan. Namun di kumcer ini diceritakan secara apik dan menguras emosi. Betapa kerasnya kehidupan orang pinggiran yang tak pernah dipandang. Apalagi sampai didengar pendapatnya oleh pemimpin.

Menurut saya sebagai pembaca kumcer ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa banyak permasalahan kehidupan pinggiran yang perlu dibenahi dan diperhatikan. Semacam kritik sosial akan kondisi yang ada. Kumcer ini tidak hanya berlatar belakang Indonesia saja tapi luar negeri pun ada.

Review Orang-orang Pinggiran

Berisikan 10 kumpulan cerpen dari berbagai latar sosial maupun lingkungan. Judulnya antara lain :
  1. Mbok Nah 60 Tahun
  2. Warung Pinggir Jalan
  3. Anak Kamu Si Pelaku
  4. Lelaki Tua dan Kaca Pembesar
  5. Di Ujung Jalan Petak Sawah Mengering
  6. 21 Cahaya Anggur Merah
  7. Setengah Hari Hidup Dita
  8. Halte Nomor 6
  9. Angin Perbukitan Kapur
  10. Anjing yang Meleleh di Ingatan Sotera
Pada cerpen pertama menceritakan seorang penjual jamu gendong bernama mbok Nah. Yang memiliki pelanggan para ibu-ibu agar singset atau bapak-bapak agar kuat. Mbok Nah pastinya bisa memuaskan suami mudanya bernama Mas Marno. Lelaki yang masih muda bekerja sebagai tukang becak.

Yang menjadi persoalan bukan kondisi badannya Mbok Nah, tapi sikap Mas Marno yang akhir-akhir ini berubah. Ia jadi sering berdandan dan suka lama-lama berangkat narik becaknya.

Mbok Nah punya tetangga bernama Meri, nama aslinya laki-laki tulen. Tapi entahlah kenapa ia mengubah menjadi Meri dan menjadi perempuan di malam hari. Sering membeli jamunya Mbok Nah. Karena Meri tinggal sendirian di kostan, waktu sakit ia meminta tolong pada mbok Nah untuk membantunya.

Selang berapa lama, akhirnya Meri tinggal di rumah mbok Nah agar lekas sembuh. Apalagi Meri orangnya cekatan. Hati Mbok Nah senang seperti memiliki anak yang diidam-idamkan selama ini.

Sayangnya Mas Marno jadi tidak mau mendekati Mbok Nah. Karena Mbok Nah harus terima kenyataan bahwa Meri kadang ada di kamar berdua dengan Mas Marno.

Setengah Hari Hidup Dita

Dita perempuan imigran gelap yang bekerja menjadi cleaning service pada perumahan-perumahan di negeri empat musim. Dita meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil bersama keluarganya. Namun beberapa waktu ini Dita selalu memikirkan kematian.

Pekerjaan Dita hanya bersih-bersih beberapa rumah yang menyewa tenaganya. Setelah semua penghuni rumah pergi barulah Dita bekerja. Catatan pada kertas alat komunikasinya dengan pemilik rumah.

Dita hidup sendirian yang di kepalanya hanya bekerja-bekerja. Menerima kabar dari keluarganya hanya menambah daftar pekerjaannya. Diawali dengan sapaan hangat dilanjutkan deretan pengeluaran keluarganya. Dari sekolah adiknya, anaknya atau pernikahan tetangga.

Angin di Perbukitan Kapur

Sumarni gadis kota yang dibawa suaminya tinggal di desa. Sampai tua ia hidup sebatang kara, di rumah kayu yang sudah reyot. Sumarni sehari-hari berjualan telur ayam. Permasalahannya adalah ketika pagi hari ayam-ayam Sumarni mati mengenaskan. Bagian duburnya rusak.

Kepala desa dan warga menduga ada musuhnya Sumarni yang sama-sama penjual telur. Sayangnya dugaan ini salah, beberapa kali kejadian ayam-ayam warga mati mengenaskan. Akhirnya dibuatlah musyawarah dengan hasil selalu ronda tiap malam dan membuat ruwat untuk mengusir setan.

Waktu malam setelah Pak lurah selesai ronda, ia mendengar ayam tercekik. Setelah didatangi ia melihat sesosok hitam. Setelah ditangkap ternyata bukan setan tapi manusia. Sayangnya Pak Lurah tidak bisa menangkap orangnya. Akhir yang tak terduga dan membuat geram.

Data Buku

Judul : Orang-orang Pinggiran
Penulis : Lea Pamungkas
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2019
Jumlah Hal : 114 hal
ISBN Digital : 978-602-06-2287-3
Baca via Gramedia Digital
Lea Pamungkas

Related Posts

26 comments

  1. Replies
    1. Angin di Perbukitan Kapur kak
      Bikin gemes dan gak habis pikir.

      Delete
  2. Cerita seperti ini realistis bangettt ya
    beneran menggambarkan kehidupan struggling yg sebenarnya
    kapan2 aku juga mau baca ah
    menarik banget!

    ReplyDelete
    Replies
    1. baca kak, kalau versi ebook aku baca di gramedia digital

      Delete
  3. Judul kumcernya menarik-menarik. Aduuuh Mbok Nah, suaminya masih muda ya. Hihihihi. Aduh endingnya Mbok Nah 60 tahun kok kayak jadi plot twist gitu ya, bikin kita mikir jelek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ending ah begitu kak, plot twist banget emang. Dan gak nyangka.

      Delete
  4. Tema cerita begini kadang-kadang suka berat untuk saya. Bukan berat dengan kata-katanya. Tetapi, karena sangat realitis. Jadi emosi pun ikut campur aduk saat membacanya

    ReplyDelete
  5. bagus nih kumcernya
    Saya jadi pingin nulis kumcer juga
    Antologi blogger menulis fiksi
    Semoga segera terlaksana ah .....

    ReplyDelete
  6. Dita ohh Dita... beratnya beban ditanggung pundakmu. Alu penasaran sama bukunya. Pengen dehh nyari ke toko buku.

    ReplyDelete
  7. Jadi pengen baca antologi Orang-Orang Pinggiran ini. Ceritanya begitu dekat dengan keseharian juga masyarakat. Selain itu supaya bisa nambah kosa kata juga hehe.

    ReplyDelete
  8. Banyak cerita dan literasi dari membaca. Ini bagus untuk gizi pengetahuan.

    ReplyDelete
  9. Berbicara tentang masyarakat marginal itu luar biasa peperangan bathinnya. Entah itu dalam wujud bacaan maupun dari sebuah kegiatan sosial selalu ada banyak makna yang bisa kita ambil di dalamnya. Baik juga untuk kesehatan mental kita agar selalu (tetap) bersyukur dan belajar tentang makna perjuangan hidup yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  10. Baru 3 cerita diulas sekilas, tapi sudah memberikan gambaran tentang apa yang menjadi tema dari isi buku, yakni realita kehidupan yang sebenarnya ga ringan.

    Cerita penjual jamu Mbok Nah saja misalnya, di situ tersaji cerita tentang lagi-laki yang menyimpang, dan otomatis pikiranku jadi jelek :D

    Menarik untuk dibaca, tentu saja.

    ReplyDelete
  11. Baca begini bikin sedih ya, tapi ini memang realita yang dihadapi, semoga kesejahteraan lebih merata ya.

    ReplyDelete
  12. jadi Mas Marno itu ada main sama Meri ya? padahal Meri kan laki2 haduwww, Ku kasihan sekali sama Mbok Nah
    Kalau baca kumcer begini emang pastinya menguras emosi bgt apalagi bercerita ttg orang2 pinggiran, sedihnya ya ampun hiks

    ReplyDelete
  13. aku suka tema2 ini. meski bikin hati ikut perih. tapi ya senyatanya inilah kisah keseharian masyarakat kita. selamat dah utk lea pamungkas. semoga bisa bikin kumcer juga #ngarep

    ReplyDelete
  14. Review-nya kok nanggung gitu mba? Jadi penasaran deh. Ide ceritanya benar-benar hidup orang pinggiran yang sebenarnya lebih rumit tp kadang dipandang sebelah mata oleh kita

    ReplyDelete
  15. Cerita2 kayak gini relaita kehidupan yah kak. Duh miris deh cerita mbok Nah. Suami lebih muda..mbok nah yang berjualan..eh malah mas Marno nya asik2an dengan Meri padahal dah dianggap anak sendiri. Duh kesel jadinya aku

    ReplyDelete
  16. Mau pinjem juga, ah. Di iPusnas ada kali, yaa. Seru juga baca kumcer. Nggak ngebosenin karena ceritanya banyak.

    ReplyDelete
  17. Mba vie buku ini kumpulan cerita fiksi atau berdasarkan realita kah? Ceritanya dramatik semua ya

    ReplyDelete
  18. Aduuuh aku jadi penasaran sama semua isinya, bener-bener gambaran kehidupan yang real ya, btw ini nyari bukunya dimana ya mbak? kisah-kisah seperti ini selalu membuatku makin membuka mata.

    ReplyDelete
  19. Uda lama nggak pernah baca lagi kumcer, jd kangen juga.
    Jadi penasaran sama alur cerita versi lengkapnya buku ini, cuss aah mau intip ke GD, hehehe

    ReplyDelete
  20. Jadi penasaran sama sosok hitam yang mencekik ayam. Seru deh kumcernya.

    ReplyDelete
  21. "Lihatlah dan bukalah mata hatimu, melihat yang lemah terluka, namun semangatnya tak kan pernah pudar..." Auto nyanyi lagu itu sambil baca tulisan ini. Pernah lihat kumcer orang-orang pinggiran, tapi kok lupa pernah baca belum yaa.. hihihi

    ReplyDelete
  22. Aku sepakat, banyak orang2 pinggiran yang tidak terlihat atau diperhatikan oleh para petinggi. Suka miris sendiri kalau ingat hal itu.
    Gk bisa ngebayangin Gmn hdup mreka, mudah2an selalu dikuatkan.
    Aku greget sama cerita yang sepotong2 itu ka😅

    ReplyDelete
  23. mengangkat cerita-cerita dari kaum marjinal pasti akan menarik sekali, in order kita juga membuka mata dengan lingkungan sekitar kita

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email