Fokus Mengasah Passion Menjadi Skill

24 comments
Fokus Mengasah Passion
Fokus mengasah passion agar bisa menjadi skill. Baru-baru ini saya membaca buku berjudul You Do You karya Fellexandro Ruby. Membahas tentang hal apa saja yang harus dilakukan di umur 20 th sampai 30 th awal. Buku yang berisikan perjalanan Ruby dalam menjalani karirnya salah satunya berhubungan dengan passion. Tulisannya enak dibaca dan tidak begitu menghakimi ataupun mengharuskan kita mengikuti cara dia memilih karir.

Kembali lagi ke passion yang artinya apa yang disukai dari aktivitas, suatu bidang, suatu industri. Akan tetapi tidak berhenti dengan menyukai, harus menjadi mampu melakukan menjadi baik. Jadi tidak berhenti hanya menyukai saja.

Sayangnya banyak pemahaman keliru tentang ini. Bahwa orang yang bekerja dengan apa yang disukai ia akan merasa selalu nyaman dan enak. Kalau apa yang disukai sudah menjadi pekerjaan banyak hal yang harus dipelajari dan ditargetkan. Bisa jadi sudah menjelma menjadi tekanan. Untuk bisa menjadi pekerjaan atau menghasilkan itu tidak terjadi secara instan.

Kebanyakan orang juga berpikir untuk berpindah-pindah kerja karena tidak disukai jobdesk pekerjaannya. Padahal untuk bisa menjadikan passion sebuah jalan hidup itu tidaklah terjadi secara mendadak.

Bagaimana Agar Fokus Mengasah Passion Menjadi Skill?

Jika pilihan pekerjaan atau suatu aktivitas yang menghasilkan pendapatan tidak disukai, jangan buru-buru untuk resign. Apalagi kalau tempat kerjanya memang nyaman orang-orangnya. Kecuali memang tidak nyaman sekali lingkungan kerjanya.

Kenapa tidak boleh keluar? Untuk bisa menjadikan hal yang disukai menghasilkan cuan maka perlu biaya yang tidaklah sedikit. Apa saja yang perlu dipersiapkan?
  • Memiliki biaya untuk menghidupi dalam kurun waktu tertentu.
Misalnya dalam waktu satu bulan atau lebih. Jika pun tak ada biaya maka bekerjalah yang bisa mendanai passion.
  • Luangkan waktu untuk belajar. 
Meski hal itu sudah disukai belum tentu sudah mahir. Maka perlu meluangkan waktu untuk belajar. Baik belajar sendiri, bersama mentor maupun mengikuti kelas-kelas.
  • Sadari apa yang disukai dan fokuslah pada hal tersebut.
Semua hal sudah dipersiapkan tapi tidak tahu apa yang disukai. Jadi carilah apa yang disukai dan merasa nyaman di awal mengerjakannya.

Ingat ya teman bahwa sudah memiliki hal yang disukai tidak serta merta bisa memberikan cuan secara langsung. Pelajari dahulu untuk menjadi sebuah keahlian. Tapi ada tahapan untuk bisa menjadi skill dan bisa memberikan penghasilan yaitu :

1. Diproses

Awalnya suka tapi lama-lama harus diproses terlebih dahulu. Makanya memerlukan biaya dan waktu. Dalam proses ini terkadang akan menemukan berbagai kendala. Jika tidak sanggup menghadapi kendalanya berarti memang tidak cocok untuk dijadikan keahlian. Hanya sebatas suka saja.

Misalnya saya yang ternyata menyukai dunia tulisan. Awalnya hanya suka dunia baca. Akan tetapi saya ingin memiliki keahlian pada apa yang disukai. Maka saya pun berusaha untuk menekuninya. Apakah senyaman seperti kata orang? Tidak. Menguras waktu dan pikiran. Banyak hal yang harus dipelajari yang tidaklah segera bisa saat itu juga.

2. Diasah

Prosesnya kita belajar terus menerus, lebih baik sambil dipraktekan agar tidak sebatas suka tapi bisa menjadi hal yang kita kuasai. Pengasahan ini saya rasakan ketika belajar di kelas dengan hukuman akan dikeluarkan. Karena kekonsistenan kita maupun ketidaksesuaian dengan tugas yang diberikan.

Diasah agar semakin mahir dipassion kita. Dalam hal ini kita bisa menawarkan kemampuan kita pada orang lain. Misalnya kalau cukup bisa didesain coba untuk membantu orang lain dahulu. Dari orang-orang terdekat misalnya. Dari sini kita akan tahu respon orang lain terhadap karya kita.

3. Dipertajam dengan Waktu dan Usaha

Orang akan menjadi ahli jika ia sudah banyak jam terbangnya. Betul sekali, kemampuan kita akan semakin terasah dan menjadi ahli. Maka perbanyaklah praktek agar semakin terbiasa dan mahir.

Satu keahlian belum tentu bisa memberikan dampak untuk apa yang dunia butuhkan atau what you can be paid for. Maka kalau tujuannya untuk kedua hal tersebut, carilah yang memang dibutuhkan. Kalau yakin dengan apa yang menjadi kemampuan kita bisa memberikan dampak value menjadi alat tukarnya uang maka jalankanlah.

Ubah sudut pandang bahwa uang adalah tujuan untuk apa yang kita lakukan. Tapi ubahlah dengan mengasah diri, mengajarkan kepada orang lain atau bermanfaat untuk orang lain maka uang akan datang dengan sendirinya. Bersabarlah dalam berproses menjadi ahli. Fokus mengasah passion agar bisa menjadi keahlian.

Terima kasih sudah berkunjung.

Related Posts

24 comments

  1. Betul banget. Karena usaha juga tidak menghianati hasil. Rintangannya banyak, tapi kalau udah sampai ditujuan, rasanya penat dan lelah hilang seketika

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, jadi terbiasa juga nantinya. Siapa tahu bisa mengajarkan ke orang lain juga.

      Delete
  2. Yang susah itu konsisten. Dan moody. Nah ini yang sering jadi penghambat. Tapi ini lagi berusaha biar tetap rajin. Syukur-syukur menghasilkan cuan haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, aku juga kak semoga aja jadi cuan hehee
      Moody itu emang bener deh masih jadi alasan hihi

      Delete
  3. Daku juga pernah gitu kak waktu berpindah-pindah kerja karena nggak sesuai passion, walau tetap dilalui tantangannya. Pas ketemu yang sesuai, kudu terus di asah skill nya.

    ReplyDelete
  4. Ini sempat saya alami beberapa waktu lalu, ketika saya kurang merasakan kenikmatan lagi saat menulis. Menurut saya, passion yang sudah berubah jadi ladang cuan memang berisiko kehilangan rasa senangnya. Karena kalau sudah ada target, biasanya ada tekanan.
    Kalau sekarang, akhirnya saya seperti punya "ban serep". Saya punya passion lain yang saya jalani murni buat senang-senang saja tanpa mengharap harus bercuan. Biar punya pelarian saat rehat sejenak. :)

    ReplyDelete
  5. Passion membekali diri sendiri untuk berkarya sesuai ketrampilan yang ditekuni. Darinya bisa menghasilkan apresiasi orang lain dan lapangan kerja. Semoga

    ReplyDelete
  6. Whoa, menarik banget ini bukunya.
    Memang sedapat mungkin kita kudu terus menerus mengasah skill, sejalan dengan passion yg kita miliki ya

    ReplyDelete
  7. Setuju banget dengan semua isi artikel. Proses tidak akan mengkhianati hasil. Dan ini saya percaya. Kalau kita serius, belajar, berlatih, kesuksesan pasti akan jadi hasilnya ya

    ReplyDelete
  8. Gak ada proses instan, ya. Bahkan sesuatu yang manjadi passion kita pun harus melalui proses diasah supaya menjadi semakin terampil

    ReplyDelete
  9. Tipsnya mantul nih Mbak. Diproses-Diasah-Dipertajam. Ketiganya menjadi satu kesatuan, engga bisa dipisah-pisah.

    ReplyDelete
  10. Orang banyak salah kaprah, katanya passion itu pokoknya yang kita suka dan kita bisa. padahal menurut saya, hal yang awalnya gak kita suka bukan tidak mungkin someday bakal menjadi passion kita yang tentunya kita suka. Makanya passion itu harus diasah. Ya kan mba?

    ReplyDelete
  11. Setuju banget nih
    Passion harus diasah agar menjadi skill
    Harus diasah diperdalam agar kita menyukai dan melakukannya dengan semangat

    ReplyDelete
  12. Hal ini masih banyak menjadi dilema bagi kebanyakan orang, Akupun dulu sempat berpikir menjalani sesuatu sesuai passion pasti menyenangkan, ternyata tak seringan itu. Banyak hal yang harus lebih di tekuni dan gigih lagi untuk dijalani

    ReplyDelete
  13. Sepakat nih sama mbanya... passion mesti di eksplor terus. Karena aku sadarin bener kalo bekerja sesuai passion kita mengeejakannya selalu optimal dan happy

    ReplyDelete
  14. Thank you banget sharingnya. Saya banget nih kalau susah focus, cenderung memilih hobby, setelahnya bosan. 😭 Jadi belum sukses sudah pindah haluan. 🤦

    ReplyDelete
  15. Setuju banget nih mba, sesuatu yang berawal dari passion biasanya akan kita jalani dengan sepenuh hati, plus pasti akan dengan senang hati juga untuk upgrade terus skill kita

    ReplyDelete
  16. Ada satu pepatah yang mengatakan bahwa "Saat terbahagia dalam hidup kita adalah saat kita dibayar atas pekerjaan yang kita cintai atau sesuatu yang kita sukai" Maknanya dalam menurut saya karena apa yang disebut "kita cintai" itu bermacam-macam. Bisa jadi profesi kita sebagai karyawan dengan bidang penugasan yang kita sukai atau bisa jadi dari sebuah karya seni yang kita hasilkan dari skill craft kita.

    ReplyDelete
  17. Ada yang bilang, pekerjaan paling menyenangkan adalah hobi yang di bayar.

    Tapi supaya hobi itu di bayar, tentunya juga butuh proses yang tidak mudah dan tidak dalam waktu singkat. bener banget, sesuai yang tertuang dalam artikel ini

    ReplyDelete
  18. Setuju banget ini. Kalau dalam ajaran Ikigai, konsep hidup bahagia ala jepang, passion ini masuk ke dalam irisan what you love dan what you can be paid for. Jadi, hobi bisa jadi skill dan skill bisa dibayar. Tugas kita adalah mengasah, melatih dan terus belajar.

    ReplyDelete
  19. Setuju sama Artikelnya, karena kalau pindah-pindah haluan itu juga bikin pusing. Jadi harus fokus dengan bidang yang kita kuasai ya

    ReplyDelete
  20. Setuju kalau passion jg diperdalam lagi biar pengetahuan makin banyak. Bagus lagi kalau bisa jadi cuan ya. Kalau mau banyak pengetahuan menurutku gapapa, tp 1 dikelarin dulu, atau belajarnya model yg terintegrasi gitu lah kalau mau barengan.

    Kalau terlalu cepat pindah2 malah ga ada yg nyangkut ya

    ReplyDelete
  21. "what you can be paid for" ini yg mesti kita fokusin ya Mbak... soalnya kl setengah-setengah gak total gitu trus kita masih pantes gak dibayar sesuai dengan hasil kerja kita yaa

    ReplyDelete
  22. Ini aku yang susah mba..aku moodyan banget orangnya.. semangat diawal, ditengah2 udah mager.. duh padahal kalau passion diasah menjaid skill akan sangat bermanfaat kedepannya. Aku setuju sih sama mba bahwa kita harus mengubah sudut pandang bahwa uang adalah tujuan untuk apa yang kita lakukan. Jadi apa yang kita lakukan bisa dengan nyaman kita kerjakan

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email