Stereotip Menjadi Anak Rantau di Kota Atau di Luar Pulau

5 comments
Stereotip menjadi anak rantau di kota maupun di luar pulau

Stereotip yang memiliki arti pandangan umum pada individu atau kelompok tertentu yang bisa negatif maupun positif yang sifatnya subjektif. Pandangan ini bisa benar adanya tapi seringnya keliru. Jauh dari kenyataan yang ada. Bahkan mengada-ada dari kejadian yang sebenarnya. Contohnya sebagai orang Jawa kami kurang diperkenankan untuk memiliki pasangan orang Sunda. Katanya orang Sunda pelit. Padahal setelah tinggal di tanah Sunda baik-baik saja orangnya.

Merantau adalah orang yang terlahir dan besar pada suatu wilayah berpindah ke daerah lain untuk melanjutkan kehidupan atau mencari pengalaman atau untuk mengubah nasib di desa.

Tiap orang memiliki alasan yang berbeda-beda untuk merantau. Sayangnya padangan orang pada umumnya memilih merantau adalah menjadi orang sukses. Inilah yang sering membuat jengah para perantau untuk pulang ke asalnya. Pertanyaan yang sering didapatkan tentang harta.

Kebiasaan dan Alasan Merantau di Desaku

kebiasaan dan alasan merantau

Merantu sudah menjadi kebiasan untuk anak-anak desa di kampungku. Ada dua tipe menjadi perantau yaitu :

  • Merantau Karena Pendidikan

Ini adalah alasan pertamaku untuk merantau. Aku melanjutkan pendidikan tinggi di kota Bandung. Umur untuk merantau dengan alasan ini bisa terjadi dari sekolah dasar atau setelah lulus sekolah dasar. Yang memulai dari sekolah dasar biasanya oleh orang tuanya di pesantrenkan. Yang memiliki setelah lulus SD untuk melanjutkan pendidikan di kota kabupaten atau di kota tetangga. Setelah itu mereka akan merantau sampai pendidikan tinggi, bekerja atau berkeluarga dan bermukim di tanah rantau.

Dulu di desaku anak yang merantau karena alasan pendidikan biasanya orang-orang yang memiliki pemikiran bahwa pendidikan adalah no satu. Jadi tidak semua anak memiliki fasilitas merantau dari orang tuanya untuk belajar.

  • Merantau Karena Mencari Nafkah

Alasan ini biasanya dilakukan bagi anak-anak yang  lulus SMA/SMK atau yang tidak mau melanjutkan pendidikan. Jangan heran setiap lebaran sanak saudara membawa saudara yang ada di desa untuk bekerja di kota. Sebelum bekerja mereka tinggal dulu bersama sanak famili setelah mendatapkan pekerjaan mereka berpisah. Mencari tempat tinggal sendiri.

Sampai kapan meraka akan merantau itu tergantung kondisi orang masing-masing. Ada yang merantau karena pendidikan akhirnya mencari kerja di kota orang dan menikah di sana juga. Jarang sekali anak di desa tidak pernah merantau. Ada tapi bisa dihitung  jumlahnya.

Tujuan Merantau

Untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Biasanya fokusnya untuk bekerja dan mengumpulkan uang yang banyak. Biasanya orang pada umumnya memandang mereka harus memiliki pekerjaan yang keren, pegawai, di perusahaan yang mentereng misalnya.

Untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Tujuan ini lah yang aku lakukan. Pengalaman berbagai hal yang bisa diambil menjadi anak rantau. Salah satunya memiliki banyak pengetahuan tentang budaya daerah lainnya.

Stereotip Menjadi Anak Rantau yang Pernah Aku Terima

Pandangan orang lain terhadap orang merantau

Aku merantau untuk pertama kalinya ke provinsi lain lebih tepatnya di kota Bandung. Karena aku sengaja memilih melanjutkan pendidikan di wilayah yang memiliki budaya berbeda. Dulu aku tidak tahu istilah untuk alasan lain selain pendidikan. Aku merantau dengan alasan untuk mendapatkan pengalaman. Pengalaman tinggal di budaya lain seperti apa, lingkungannya dan orang-orangnya.

Mungkin pengaruh dari buku yang aku baca. Pengambilan latar yang membuatku pensaran untuk merasakannya secara langsung. Ternyata setelah di jalani tidak sehoror yang aku dengar dari orang lain. Karena niat awal yang baik, tekad untuk pantang menyerah maka semesta membantuku untuk bertemu dengan orang-orang baik.

Agar tidak ikut steriotipe orang lain maka cobalah untuk tinggal di tempat itu. Seperti yang aku lakukan untuk mencari kebenaran dari pernyataan yang sering aku dengar. Hasilnya seperti di bawah ini :

1. Stereotip Merantau di Kota  Bandung

  • Kenapa wajahnya tidak putihan? Memangnya tinggal di kota harus memiliki kulit yang mulus dan putih. Dasar warna kulitku jawa yang tidak ada pengaruhnya. Tetap warnya coklat.

  • Biaya hidup di Bandung pasti mahal banget. Memang kalau sering belanja atau makan yang bergengsi pasti mahal. Kenyataanya masih bisa makan dengan harga Rp 8.000 di warteg. Banyak jajanan murah yang ada di Bandung asal kita mau memilih dan enak. Aku pun pernah mendapatkan sewa kost yang murah di bawah standar pada umumnya. Tapi bangunan masih oke dan lancar airnya.
  • Pakaian di Bandung murah-murah. Murah sih tapi itu adanya di Cimol dan Gede Bage. Di sana harganya mulai dari Rp 5.000, tapi baju bekas impor. Banyak juga loh yang menjual lagi dengan harga seperti umumnya. Karena bajunya tidak akan ada yang sama persis.

  • Berpakaian harus trendi. Aku memilih untuk cuek soal pakaian. Makanya tidak tergoda untuk membeli baju baru. Dan tidak semua orang Bandung itu harus sering membeli baju baru. Bagaimana kita saja membawa diri. Tidak diprotes kok kalau memang tidak mau mengikuti gaya terbaru.
  • Orang Sunda pelit. Wah ini perlu tinggal di Sunda lama deh. Teman dekatku kebanyakan orang Sunda asli. Mereka terbuka banget sama pendatang. Sering menolong, berbagi dan baik banget. Aku pun sampai bisa berbahasa sunda meski belum halus.

  • Cewek Bandung suka dunia malam. Wah ini pertanyaan aku dapatkan setelah tinggal di tempat baru lagi. Ada seorang teman yang mengatakan ini. Kaget dong denganpertanyaanya. Teman-temanku sendiri tidak menyukai dunia malam yang negatif. Seringnya pulang malam karena rapat, sekali-kali menikmati udara malam dengan nongkrong low budgetlah di alun-alun Bandung.
  • Pasti banyak uangnya dan pekerjaannya keren. Tidak semudah itu teman untuk mendapatkan pekerjaan keren. Karena aku mengalami sendiri dan melihat orang rantau yang ada di Bandung. Sama saja mencari pekerjaan untuk menyambung hidup.

Seperti itulah kira-kira yang pernah aku dengar dari orang lain ketika merantau di tanah Sunda. Bagaimana dengan perantauanku yang kedua di luar pulau Jawa?

2. Stereotip Merantau Ke Luar Pulau

Merantau kedua alasannya ingin merasakan tinggal di lua pulau Jawa. Terdamparlah aku di pulau Lombok. Alasan lainnya ingin mengetahui budaya baru. Senang rasanya bisa mengetahui dan merasakan budaya daerah lain. Karena itu aku tidak mau merantau ke kota Jakarta.

  • Stereotip pertama adalah di luar pulau karena  diterima menjadi PNS. Ini sering aku dengar jika keluar pulau Jawa agar menjadi PNS mudah. Kenyataanya aku bukanlah untuk mengejar menjadi pagawai. Sebagai karyawan swasta yang memberikanku kesempatan tinggal di sini.

  • Dikira bekerja di perusahaan tambang. Perusahaan ini aku pun baru mendengar setelah tinggal di Lombok sebelumnya hanya tahu di Papua.

Aku ke pulau sini bukan karena sebagai PNS maupun karyawan perusahaan ternama.  Pandangan ini yang sering membuatku  malas untuk menjelaskan mengapa aku tidak seperti itu. Alasan menjadi anak rantu, iya karena ingin memiliki banyak pengalaman di daerah yang berbeda.  Aku pun lebih senang menjadi perantau. Senang menjelajahi daerah lain, belajar bahasa daerah baru, belajar adat baru, belajar kebiasaan baru dan lainnya. Ini semua alasan dan membuatku tertantang untuk merantau.  Apapun tanah rantau yang dituju tetaplah junjung adat yang kita tempati dan jangan melupakan adat asal.

Terima kasih sudah berkunjung ke blogku.

Related Posts

5 comments

  1. Jadi mbak.. akupun penasaran apa hal yang paling membuat mba bisa sampai Lombok? Jangsn-jangan nanti lebih krasan disana? Ehhehehe

    ReplyDelete
  2. Halo Mbak Vi...Aku di Bandung. Seneng ya merantau. Aku sih dulu pindah² bukan merantau, tapi ikut Ayah yg pindah tugas. Kapan² pengen ke Lombok lagi. Aku baru sekali ke sana. Cerita lg dong ttg Lombok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeay tinggal di Bandung dan pernah tinggal di Lombok

      Delete

Post a Comment

Follow by Email