JurnalViandry

Self Love Bangkit dari Rasa Terabaikan Berlebihan

Post a Comment
Self Love bangkit dari rasa terabaikan

Ini cerita perjalanan saya melakukan self love dari rasa terabaikan yang berlebihan. Rasa diabaikan itu membuatku harus mundur teratur dari segala hal yang pernah saya harapkan. Hidup kacau balau, rasa untuk bernafas saja tidak mau. Lebay banget kan saya dulu. Berharap malam lebih panjang. Menatap sinar matahari saja tidak mau. Rasanya dunia tidak berpihak padaku waktu itu. Inginnya tenggelam dalam bumi agar tak usah terlihat.

Kadang saya menyebut masa itu adalah patah hati. Tapi kurang pas juga kalau dibilang patah hati. Karena memang tidak akan pernah bisa selamanya terus. Suatu saat saya memang akan ditinggalkan atau meninggalkannya juga. Tetap saja melihat kenyataan waktu itu belum bisa diterima kalau harus berpisah. Padahal itu hanya perpisahan fisik saja. Saya masih bisa komunikasi dan bertemu. Tapi begitulah rasa abai yang berlebihan menutup segala pintu kebaikan.

Segala hal bantuan, obrolan, pertemuan saya abaikan. Rasa tidak terima juga besar sekali. Rasanya sedih memikirkan jika bertemu harus berpisah lagi. Juga hanya bisa bertemu beberapa jam saja. Ah untuk apa pertemuan jika akan berpisah. Rasa tidak jelas pada diri berkecamuk. Marah pada orang lain tidak bisa. Marah sama diri sendiri bingung juga.

Perjalanan Self Love Bangkit dari Rasa Terabaikan


Perjalanan ini masih terus berlanjut sampai sekarang. Ternyata untuk menyayangi diri sendiri harus terus menerus. Tidak menafikan bahwa masih ada rasa sedih dengan versi berbeda. Bukan lagi rasa abai yang diingat tapi rasa sedih lainnya yang kadang muncul. Tapi hal itu tidak membuatku patah untuk terus mencintai diri sendiri. Siapa lagi yang akan menyayangi diri jika bukan saya sendiri?

Saya pun berusaha untuk tidak menyandarkan rasa bahagia pada pasangan. Kebetulan rasa itu muncul dikala saya sendiri sudah tahu rasanya mencintai diriku. Tahu bahwa bersama itu bukan meminta ini itu tapi saling berjalan beriringan. Rasanya menyenangkan tahu apa yang diri mau. Jadi untuk saling diskusi pun berusaha untuk terbuka dan menerima keputusan. Tapi itu juga tidak mudah bagi saya yang memiliki rasa abai. Seiring berjalan waktu saya lebih memahami diri saya. Apa yang terbaik dan apa yang harus aku lakukan untuk diri. Agar tidak menjadi beban untuk orang lain.

Pertama Teringat Kasih Sayang Allah


Waktu itu untuk meminta Tuhan pun enggan. Rasanya tidak adil mengapa Tuhan memberikan cobaan ini. Tidak adil mengapa harus saya yang ditinggalkan sendirian. Tidak adil dengan keadaan yang diberikan. Apa salahku harus menanggung kejadian ini?

Meski begitu dalam qalbu masih ada nama Allah di sana. Masih meminta dengan pelan dan diam. Lambat laun menyadari bahwa saya tak bersyukur pun Tuhan masih memberikan rezeki. Masih memberikan kehidupan yang sempurna ini. Dari sinilah saya mulai bangkit. Mengembalikan semua kepada-Nya. Mencoba meminta ampunan-Nya akan sikapku selama ini. Meminta untuk terus membimbingku di jalan-Nya. Bersyukurnya Allah selalu menahanku jika mau melakukan hal-hal yang akan merugikan hidupku.

Mulai mengingat-ingat semua kebaikan yang Allah berikan. Dari hal sederhana yang saya rasakan dan dikabulkan. Dari situ pula saya tahu setiap jalanku dibimbing-Nya. Contohnya dalam hubungan sosial ternyata saya tak sendirian. Saya masih bisa silaturahmi dengan temanku. Masih bisa berjumpa untuk mengobrol santai. Atau mempunyai teman untuk makan bersama. Dan lain sebagainya. Yang mengingatkan bahwa saya tak sendirian sama sekali.

Mulai menata ibadah yang pernah saya tinggalkan. Perlahan tapi pasti berusaha untuk lebih mendekat kepada-Nya. Mulai mengharap dan meyakini untuk terus menjalani hidup.

Bosan Hidup Tanpa Tujuan


Sebagai umat muslim tujuan hidup adalah kembali kepada Allah. Tapi bagaimana caranya? Apakah setiap hari beribadah secara lahiriyah saja? Sholat, puasa, zakat, dzikir, atau berdiam di masjid kah? Waktu-waktu lainnya mau diisi apa? Untuk terus beribadah itu juga perlu biaya hidup? Harus melakukan apa agar semua jalannya. Begitu lah hal-hal yang pernah saya obrolkan dengan diri. Bosan hanya melakukan aktivitas hiburan terus menerus. Tidak tahu mau dibawa kemana apa yang ditonton. Karena saya suka sekali menonton hehe

Jadilah saya harus menemukan jalur yang akan memberikan makna pada diri sendiri. Bangkit dan bergerak adalah hal yang harus saya lakukan. Membuka dunia luar. Berinteraksi dengan orang lain. Dengan begitu saya tahu apa yang disuka dan tidak disuka. Begitulah bosan terhadap hiburan dan rebahan pernah saya rasakan.

Percaya Diri pada Pilihan Hidup


Kepercayaan diri berbanding lurus dengan apa yang disukai atau hal-hal yang membangkitkan diri untuk bergerak. Untuk membangkin kepercayaan diri saya harus melewatinya bukan dalam kurung waktu sebentar. Berbulan-bulan lamanya. Mencoba untuk keluar dari kota yang memberikan kenyamanan dan selanjutnya akan selalu dirindukan.

Karena suka dengan bahasa, saya coba untuk les Bahasa Inggris di Pare. Untuk hal ini saya harus meninggalkan pekerjaan dengan lingkungan saling mendukung. Sayangnya saya belum menemukan sesuatu untuk menjadi pilihan hidupku. Mengikuti les ini rasanya menyenangkan dan membuatku percaya diri. Karena ada kegiatan yang harus mempresentasikan tingkat belajar kita.

Sayangnya saya belum menemukan hal yang pas untuk terus digeluti. Sampai saya memutuskan untuk mencari tempat baru lagi. Dan Allah memberikan jalan yang membuatku senang, kesal dan ingin terus melakukannya. Tidak kapok untuk menjalankannya. Saya suka baca buku. Lewat media sosial saya menemukan hal-hal yang saya jalani seperti ini. Membaca dan menulis di blog jadi sesuatu yang saya akan tekuni.

Membuat Rencana Hidup tidak Muluk-muluk


Setelah tahu apa yang harus dilakukan dan tahu tujuannya kemana saya pun menuliskan rencana hidup. Saya membuat rencana tidak muluk-muluk. Saya tuliskan di buku catatan target hidup selama satu tahun dan apa yang harus dilakukan. Dengan penekanan tidak terpatok dalam tujuan dan rencana tersebut. Karena saya tahu harapan yang tinggi terhadap rencana akan kecewa jika tidak tercapai.

Maka saya memilih untuk santai saja dengan target yang ditulis. Saya lebih memilih untuk terus melakukan prosesnya dan berdoa Allah akan mengabulkan harapanku. Dengan cara ini saya sangat lega untuk menjalani hidup. Tidak ada beban harus segera tercapai atau kecewa karena harusnya di bulan ini tujuan A terjadi. Melihat kenyataan masih berproses tenang saja. Fokus dengan proses ada yang tercapai dan ada yang lebih tujuan yang pernah ditulis. 

Langkah-langkah mencintai diri sendiri

Proses self love bangkit dari rasa abai terus saya lakukan. Karena terlalu banyak pikiran kurang baik yang pernah bersarang harus dikikis secara terus menerus dengan hal yang baik. Bahagia baik di waktu malam maupun esok hari. Rasanya ada hal baru yang terus terjadi dalam diri. Saya berharap tetap ada di jalan-Nya.

Terima kasih sudah berkunjung. 
Viandri
Seorang perempuan yang menikmati perjalanan. Suka berpergian sendiri. Selalu percaya bahwa Sang Pencipta tidak pernah meninggalkan sendirian.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email