JurnalViandry

Mengobati Penyakit Jiwa Pendapat Imam Al Ghazali

2 comments
Mengobati penyakit jiwa

Mengobati penyakit jiwa bagi siapapun yang merasa sudah jauh dari Allah SWT. Sesi ini saya mau cerita bagaimana kondisi kejiwaan beberapa hari yang lalu. Saya sudah melakukan ritual ibadah. Sholat lima waktu, berdzikir, membaca Al-Qur-an tapi rasa sedih masih mengalir di pikiran dan emosi. Akhirnya baca-baca bukunya Buya Hamka dengan judul Lembaga Budi. Ternyata ada bab tentang sakitnya jiwa.

Saya membeli buku ini sengaja untuk bahan perenungan jika sewaktu-waktu iman sedang turun. Masya Allahnya tantangan ODOPICC bertemakan kesehatan. Karena kesehatan tidak melulu tentang fisik juga psikis alias jiwa. Jiwa yang sehat akan mempengaruhi fisik. Saling berkaitan. Hanya saja sakit psikis kadang tidak terlihat atau pun ada tandanya. Kadang pula lalai untuk mengakui bahwa jiwa sedang tidak baik-baik saja.

Imam Al Ghazali dalam Mengobati Penyakit Jiwa

Manusia dilahirkan dalam kondisi seimbang. Seimbang jiwa dan raganya. Jiwanya masih jernih dan bersih dari segala buruknya dunia. Raganya masih tahap penyempurnaan sampai pertumbuhannya yang menyempurnakan. Setelah itu seimbanglah raga dan jiwanya.

Jiwa dan raga akan berubah seiring sentuhan dari luar. Jiwa akan berubah karena didikan, pengetahuan dunia maupun akhirat. Tapi akan rusak jika diajarkan perangi yang salah atau pengetahuan yang salah. Jalan hidup yang tempuh bisa jadi jalan yang salah.

Jika jiwa yang sehat diberi didikan akhlak yang baik dan pengetahuan yang baik pula. Kemungkin besar akan menuju jalan yang benar. Begitulah perjalanan jiwa mengikuti apa yang sudah diasupkan padanya.

Jiwa yang sakit inilah perlu diobati. Jika raga sakit karena keseimbangan asupan makanan salah atau perubahan udara segera diobati melalui dokter. Jiwa pun kalau sakit harus diobati oleh ahlinya yaitu ulama. Cari ulamanya juga jangan asal yang mengerti penyakit jiwa.

Obat untuk menyembuhkan badan rasanya pahit dan tak enak ditelan. Begitupun dengan jiwa. Untuk mengobatinya harus dilawan dengan yang menangkalnya. Tapi sebelum mengobati perlu adanya pemeriksaan. Agar tidak salah memberikan resep obat.

Tidak mungkin penangannya sama penyakit anak kecil sama dengan orang dewasa. Sebelumnya perlu dicari sebab musababnya apa barulah diobati. Agar obatnya manjur tidak hanya dilakukan sekali dua kali tapi berkelanjutan.

Misalnya punya rasa penakut maka diobati dengan cara merantau. Namanya merantau perlu jiwa yang berani. Penyakit bodoh diobati dengan belajar. Dengan bertambahnya ilmu pengetahuan kebodohan akan berkurang atau hilang. Penyakit bakhil pengobatannya dengan sifat pemurah. Orang yang sombong pengobatannya dengan tawadhu’.

Takaran untuk pengobatan jiwa misalnya sakit jiwa masih awal-awal diobati dengan cara rukun suci, beribadah dan ibadah lahiriah lainnya. Orang yang suka mengambil harta orang lain harus melepaskan harta haramnya. Tidak boleh dalam pengobatan masih menyimpang di dalam tubuhnya.

Orang yang doyan makan sampai berlebihan dilatih dengan cara berpuasa. Agar bisa menahan nafsu makannya. Pokoknya resepnya tidak boleh melebihi dari kapasitas pemilik penyakit atau terlalu enteng untuk dilakukan.

Dalam proses pengobatan biasanya tidak mengenakan. Tapi untuk mau sembuh dari penyakit jiwa maka harus tahan dalam melakukan sikap yang berlawanan sakitnya. Harus ‘latihan jiwa’ berkali-kali. Karena sakit jiwa akan dibawa sampai maut memisahkan. Jiwa selalu menempel pada tubuh. Jangan sampai dibawa mati. Segeralah cari penyembuhnya agar hidup kembali ke jalan lurus.

“Dan adapun orang yang takut akan maqam Tuhannya, dapat menahan diri dari pengaruh hawanya, maka surgalah yang akan menjadi kediamannya.” (Qs. An-Naji’at(79): 40)

Pengobatan jiwa dengan amalan yaitu menyedekahkan harta  dan menafkahkannya dengan yang pantas tidak sampai memboroskan. Karena boros adalah kelalaian. Maka ambilah jalan tengan untuk mengobati jiwa.

Keutaman dalam latihan jiwa adalah keteguhan ‘azam(tekad). Tekad saja tidak cukup harus dibarengi dengan sabar dan terus berkelanjutan. Jangan sampai berhenti di tengah jalan. Kalau nafsu untuk berhenti muncul dan bertahan lama dijiwa maka rusak sudah latihannya.

Sampai sini pembahasan mengobati penyakit jiwa. Masih ada lanjutannya silahkan baca bukunya Buya Hamka. Saat saya membaca kembali pun sedih rasanya kenapa tidak mempraktikan apa yang ada di buku. Begitulah semakin banyak pengetahuan bukannya bertambah akal bisa jadi malah terlupa atau hilang ilmu sebelumnya.

Terima kasih sudah mampir.

Viandri
Seorang perempuan yang menikmati perjalanan. Suka berpergian sendiri. Selalu percaya bahwa Sang Pencipta tidak pernah meninggalkan sendirian.

Related Posts

2 comments

  1. wah ini menampar banget sih, ternyata banyak hal yang membuat jiwa kita jadi berpenyakit ya mbak. dan tentu semua penyakit itu ada obatnya.

    apalagi itu penyakit penakut diobati dengan merantau, emang yang namanya obat juga nggak enak pahit, ada yang minumnya sambil makan pisang.

    harapannya pisang itu bisa menghambarkan pahitnya obat, kayak orang yang mengimbangi dengan amalan lain seperti tilawah quran.

    karena jika seseorang yang makannya banyak tapi tidak disibukkan dengan ibadah orangnya pun bakal merasa kesulitan dan bisa berhenti di tengah jalan ya mbak.

    pagi-pagi dah dapet pengingat yang mantul, banyak pelajaran yang diambil dari kunjungan ke blog ini

    ReplyDelete
  2. aku pun teringatkan kembali gara-gara baca bukunya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email