Kisah Pencarian Eksistensi Diri

2 comments
Pencarian eksistensi diri
Eksistensi diri istilah yang baru saya pelajari. Ini jawaban yang saya cari sejak kecil. Mungkin kebanyakan orang sudah mengenal tentang siapa dirinya. Saya sendiri baru mengenalnya di umur seperempat abad ini. Ada yang menggelitik dari kata ini. Saya merasa tidak semua orang memiliki keistimewaan buat hal satu ini.

Contohnya sewaktu saya kecil, saya merasa ‘invisible’ tak terlihat. Seakan saya tidak mempunyai hak untuk mengucapkan dan melakukan sesuai dengan kemauan sendiri. Orang-orang di sekeliling sibuk dan bising memasukan idealismenya kepada saya.

Saya tidak nyaman dengan kondisi ini. Hal pertama yang saya inginkan adalah keluar dari situasi ini dengan mencari apa yang sebenarnya saya inginkan. Setelah lelah mendengar dan harus menuruti apa yang diinginkan orang lain dari saya.

Setelah lulus SD saya berharap jika sekolah tidak ada teman-teman SD yang satu kelas. Tuhan mengabulkan doa saya. Dalam pikiran saya waktu itu teman baru akan melihat sebagai diri saya saat itu bukan latar belakang saya.

Pernah tinggal bersama keluarga orang lain. Ternyata intervensi terhadap saya tinggi sekali. Hal ini membuat saya memilih berpisah untuk fokus ke jalan pencarian diri. Waktu sekolah pun semua pendapat saya hanya bersarang di kepala. Tidak pernah diutarakan secara gamblang.

Kebanyakan orang yang berpikiran untuk menjadi PNS, guru, maupun pegawai berseragam menghalangi pilihan saya untuk melanjutkan pendidikan di kampus umum. Bukan jurusan pendidikan yang saya pilih. Kampus saya meski terkenal di nasional tapi kurang peminat untuk di desa saya.. Padahal saya sendiri sudah menyiapkan mental untuk ditolak.

Keyakinan diri dan takdir dari Tuhan, saya bisa berkelana di kota lain dengan perbedaan budaya. Di sinilah saya bisa berpendapat lebih bebas, berbagi pikiran dengan orang lain yang sepahaman maupun berbeda. Kehadiranku dilihat karena diri saya sendiri. Bahkan tak ada teman lama yang membersamaiku.

Sampai lulus kuliah sebenarnya saya belum tahu harus melakukan apa. Sampai saya merasakan permasalahan yang bergejolak di hati dan pikiran. Kemudian saya memutuskan untuk pergi lagi. Membawa diri untuk menemukan apa yang bisa membuat saya merasa ada.

Ternyata hobi saya sejak kecil, ini pun tidak ada yang mengarahkan untuk menjadi apa. Hobi baca hanya ada dalam buku-buku pelajaran yang dihafal. Tidak pernah diterapkan dan diakui secara luar oleh pengajarnya.

Hobi membaca membawaku ke banyak hal positif untuk menemukan skill yang ada. Memberikan gambaran yang kuat bahwa hidup bisa bermanfaat dan berhasil melalui baca dan menulis. Meski saya merasa terlambat. Karena kebanyakan orang sudah belajar menulis diary dari kecil maupun aktif di dunia literasi baik di sekolah maupun luar sekolah.

Hal ini tidak mengecilkan hati saya. Saya yakin dengan konsisten menulis di dalam blog ini akan memberikan perubahan besar pada hidupku. Jangankan perubahan besar, perubahan kecil pun sudah saya rasakan.

Belajar Eksistensi Diri dari Dr. Fahrudin Faiz

Level keberadaan manusia
Saya belajar dari youtubenya Dr. Fahrudin Faiz tentang eksistensi manusia. Eksistensi atau keberadaan manusia. Ternyata tentang keberadaan itu ada tiga level. Dari sini saya belajar ada pada tahap-tahap tertentu yang dirasakan.

Level 1: Estetik


Pada level ini manusia hanya mementingkan kepentingan saat ini. Sikap yang bisa terjadi adalah hedonis. Hidup untuk memenuhi hasratnya saja. Tujuan untuk masa depannya terbatas. Fokusnya hanya sekarang. Mereka hanya membuat senang diri sendiri.

Ada penyakit untuk level ini yaitu rasa bosan karena hidup hanya memikirkan saat ini. Kecewa karena apa yang diinginkan tidak terpenuhi. Terakhir keputusasaan, tidak tahu selanjutnya mau apa menjadikannya mudah putus asa.

Jika orang yang terkena penyakit ini merasa ada yang harus diperbaiki maka ia akan mencari tujuan hidup lagi. Kalau tidak tahu mau kemana menjadi putus asa sampai bunuh diri. Jika keberadaannya baru tahap ini perlu untuk mencari ilmu untuk naik level.

Level 2: Etik


Manusia ditahap ini sudah menentukan pilihan. Bertanggung jawab dengan kehidupan yang dijalani. Kesenangan bukan lagi untuk dirnya tapi berbagi dengan orang lain. Misalnya orangnya punya keahlian, ia akan membagikannya dengan orang lain. Memiliki pegangan aturan moral secara universal tentang nilai baik dan buruk.

Kelemahannya niat yang kurang jelas. Misalnya membantu orang lain untuk ikut bahagia. Kalau orang yang diajak tidak mau melakukannya, apa yang akan kita lakukan? Bingung kenapa orang tersebut tidak melakukan? Perlu tujuan yang jelas untuk membantu orang lain.

level 3: Religius


Menurut Kierkegaard Tuhan adalah suatu kedekatan. Ia mengkritik orang yang hanya sepintas tahu tentang agama, berpikir dan berbicara tentang agama. Agama harus dihayati sebagai pengalaman subjektif. Karena jalan untuk menuju Tuhan tidak abstrak.

Manusia tahap ini tahu caranya bersenang-senang untuk hidupnya. Mengetahui tujuan hidupnya. Tahu batasan untuk membantu orang lain. Tidak memaksakan kehendaknya untuk orang lain. Bisa menerima jika hal yang direncanakan tidak sesuai kenyatan.

Tuhan sebagai alasan untuk melakukan banyak hal. Dan kehidupannya akan kembali lagi pada Tuhan setelah kematiannya.

Saya pernah merasakan kebosanan tak terhingga, tidak tahu tujuan hidup dan hampir putus asa untuk terus hidup. Kekecewaan pada apa yang saya anggap benar ternyata tidak semua orang menyukainya. Tapi karena Tuhan selalu mengingatkan akan kehadiran-Nya dihidup saya, maka saya pun harus membenahi hidup. Sampai sekarang pun masih belajar untuk mengenal eksistensi diri.

Terima kasih sudah berkunjung.
Viandri
Seorang perempuan yang menikmati perjalanan. Suka berpergian sendiri. Selalu percaya bahwa Sang Pencipta tidak pernah meninggalkan sendirian.

Related Posts

2 comments

  1. Artikelnya daging nih.
    Hebat sih kalau buat saya, di usia 20 an tapi sudah bertanya tentang eksistensi diri. Saya di jaman itu kayaknya lebih fokus sama diri sendiri dan masalah-masalah. Kalau dilihat dari level eksistensi, sepertinya di level 2.

    Sekarang beranjak tua mencoba berjalan ke level 3, karena semakin banyak makan asam garam kehidupan, dimana hidup kebanyakan berjalan tidak seperti yang kita hrapkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin kak Ren
      aku pun masih terus belajar untuk mengenal keberadaanku, memfokuskan dan menguatkan.

      Delete

Post a Comment

Follow by Email