Hobi Membaca Membuat Duniaku Penuh Warna

Post a Comment
Hobi Membaca

Hobi membaca ini awalnya tidak saya sadari. Waktu saya sudah bisa baca, senang sekali membaca cerita apa saja. Hobi ini entahlah menurun dari siapa. Padahal di rumah itu orangtua tidak menyediakan buku apapun. Hanya sanggup membelikan buku wajib sekolah. Fokus membaca dulu hanya materi sekolah. Di sekolah pun tidak ada pengetahuan khusus pentingnya membaca fiksi.

Saya mempelajari cerita fiksi sebagai matari tanpa adanya kesan mendalam. Menulis pesan dan amanat pun karena tugas sekolah. Kalau bukan mana tahu ada makna dibalik sebuah cerita. Minat baca waktu sekolah buku di luar materi rendah sekali. Semua orang sibuk membaca pelajaran untuk menjadi yang terbaik di kelas. Orang seperti inilah akan dilihat guru, teman dan para orangtua.

Sayangnya dulu saya tidak punya pemikiran agar bisa diperhatikan orang lain hehe. Jadi santai saja menikmati buku bacaan. Karena terbatasnya buku, saya hanya membaca cerita di pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, IPS dan PAI. Cerita fiksi semacam fabel, dongeng maupun cerpen. Non fiksinya paling bagian menceritakan sejarah tokoh, daerah maupun kebudayaan.

Perjalanan Hobi Membaca


Saya akan menceritakan naik turunnya semangat membaca. Apa saja yang sering saya baca waktu itu. Seiring waktu bacaan saya berbagai macam. Yang membuatku menilai baca genre ini itu ada alasan dan kapan waktunya membaca.

Dongeng, Fabel, Cerita Anak Desa Waktu SD


Saya senang sekali jika menceritakan dunia antah berantah. Sihir, keindahan alam, keunikan tokohnya atau keanehan ceritanya. Kisah fantasi saya suka sekali. Semacan membawa diri ke dunia lain. Membawaku melintasi hal-hal yang tidak pernah saya rasakan di dunia nyata. Sampai sekarang saya menyukai film fantasi baik kartun atau live actionya. Contohnya Harry Potter, sekuel Smurf, sekuel Rio, The Chipmunk dan masih banyak lagi.

Karena kesukaan baca genre seperti inilah mempengaruhi tontonanku. Untuk judul buku yang pernah baca saya lupa hehe. Untuk dongeng nusantara mungkin masih ingat seperti Timun Emas, Kancil, Tangkupan Perahu, Roro Jonggrang atau Joko Tingkir. Tema kerajaan memikat hati karena membayangkan betapa indahnya memiliki dayang, hutan yang masih asri, diperlakukan sebagai ratu.

Ada kejadian yang paling absurd waktu SD. Saya heran kenapa perpustakan ditutup. Padahal buku cerita anaknya bagus-bagus. Menurutku waktu itu, ya. Saya pun tidak hafal judul buku yang saya baca itu apa. Selain ceritanya juga ada ilustrasinya yang indah-indah. Meski itu hanya hitam putih. Bisa diwarnai, sayangnya tak bisa hehehe. Dulu saya merasa aneh kenapa orang baca buku dibentak-bentak oleh penjaganya. Padahal saya tidak tahu masalahnya apa. Perpusnya pun dibuka hanya sebentar tidak sampai satu tahun mungkin. Karena sejak kelas tiga tidak pernah baca lagi di perpus. Kalau tidak salah ingat.

Mengenal Cerpen Waktu SMP


Beruntung punya teman-teman yang suka belajar dan mau mengajak untuk ke perpustakaan. Meski memiliki kecenderungan berbeda pada buku bacaan tetap membuat kami datang ke perpus. Entah sejak kelas satu semester akhir atau kelas dua kami mulai ke perpus. Setiap istirahat atau jam kosong datang ke perpus. Sayangnya penjaganya agak galak hehe

Perpus sekolahku tidak besar. Akan tetapi lumayanlah untuk saya yang tidak punya tumpukan buku cerita di rumah. Setiap ke perpus saya biasanya langsung mencari MOP majalah untuk pelajar. Yang saya cari bagian cerpen atau info-info menarik lainnya. Teman lainnya suka baca intisari. Ada majalah Islami yang isinya azab, itu juga sering kami baca.

Saya menemukan novel-novel tahun 90’an yang ukurannya mirip komik tapi lebih besar. Karena tidak tahu caranya meminjam novel atau tidak boleh sama penjaganya atau takut membawa pulang buku jadi tidak pernah meminjam. Saya hanya menyimpannya di barisan yang jarang dilihat orang lain. Setiap datang selalu saya ingat-ingat penyimpanannya di mana.

Baca cerpen sampai sekarang mungkin berkurang tapi membaca novel-novel karangan dulu masih saya sukai. Oh ya saya pun mengenal novel remaja Islami. Suka banget dulu pokoknya. Mengambil setting sekolah, tokoh perempuan yang belajar agama rasanya menyenangkan membaca cerita-cerita semacam itu.

Mengenal Novel Waktu SMA


Kelas satu sampai dua banyak banget judul novel yang saya baca. Berhentinya waktu kelas tiga, fokus UN. Membaca waktu SMA lebih beragam dari berbagai masa kehidupan. Membaca novel Islami, dewasa, luar negeri, karangan lama dan genre-genre lainnya. Selain itu baca koran dan kisah orang lain itu yang sering dibaca.

Kalau baca koran itu tokoh-tokoh inspiratif atau berita dari luar negeri seperti apa. Menyenangkan setiap pagi atau istirahat pertama langsung meminta koran terbaru. Pokoknya koran itu bacaan yang harus dilihat setiap hari. Bahkan sebagai penutup untuk tidur di perpus hehe

Kebetulan perpus SMA luas, koleksi novelnya terbaru. Menurutku waktu itu. Sering banget tiap bulan ada novel terbaru yang muncul. Kalau bisa saya menjadi pembaca pertama. Tapi ya kadang sih hehe. Tempat koleksi novel terbaru ini ruangnya khusus untuk duduk berselonjor. Sepi pula, orang jarang masuk ke sana kecuali dia pecinta novel hehe. Saya sering kali menghuni tempat itu kalau ada yang baru datang.

Apalagi penjaganya ramah banget sama siswa. Bisa dilobi pula, saya sering banget meminjam makanya suka lobi biar bisa tiga fiksi yang dipinjam. Aturannya maksimal 3 buku yang berisi fiksi dan nonfiksi. Agar judul lain tidak baca duluan siswa lain, saya suka mengajukan untuk dipinjam dulu. Kalau tidak bisa maka harus disimpan hehe. Kadang mau membantu kadang tidak sih. Tapi mau memberikan info kemana judul buku yang seharusnya saya pinjam menghilang.

Di masa SMA inilah kartu perpus saya dalam setahun hampir ganti tiga kartu. Kebanyakan novel yang dipinjam. Di masa ini saya masih membaca sembarang genre. Saya belum paham tentang genre waktu itu. Pemaham isi dari novel pun belum paham. Tapi novel dengan tema motivasi yang melekat dalam diri.

Ada beberapa novel Islami, tapi saya tidak mau menyimpannya sebagai hikmah. Lebih menyukai novel-novel yang berpetualangan. Seperti Laskar Pelangi. Negeri 5 Menara, karya NH. Dini La Barka, semuanya membahas jauh dari kampung halaman. Merantau menjadi imajinasiku.

Segini dulu riwayat hobi membaca yang membuatku memiliki angan-angan akan masa depan. Menemukan kesukaan yang membawaku bertemu banyak hal. Hobi ini membuatku banyak warna dalam perjalanan hidupku.

Terima kasih sudah berkunjung. 
Viandri
Seorang perempuan yang menikmati perjalanan. Suka berpergian sendiri. Selalu percaya bahwa Sang Pencipta tidak pernah meninggalkan sendirian.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email