Review Novel peRempuan, Maman Suherman

Post a Comment
Daftar Isi [Tampil]
review novel perempuan karya kang maman suherman



...“negara mengambil alih hak warganya yang menjadi korban kejahatan untuk melakukan semacam balas dendam. Apa jadinya sebuah negeri kalau setiap warga diberi kekebasan untuk melakukan balas dendam? Main hakim sendiri-senidiri, misalnya?” hal 71

“Bahagia itu gak bisa dibeli. Cuma bisa dirasakan, kalau kitanya mau merasakannya.” RE: hal 103

“Bahagia itu ada di hati setiap orang. Termasuk di hati pelacur seperti saya. Bisa jadi orang kaya yang membayar untuk meniduri sayai itu, lebih tidak bahagia dari saya. Kalau dia bahagia, dia tidak perlu jajan di luar rumah. Semuanya sudah tersedia di rumahnya. Ada suaminya yang bisa memberikannya kepuasan melebihi saya. Kenapa masih cari saya, sesama perempuan? RE: hal 103

Novel kedua dari RE:, yang mengisahkan tentang keingintahuan Melur akan identitas tante RE:. Melur yang sejatinya anak RE: telah berhasil meraih gelar doktor di bidang ekonomi di Tokyo Jepang. Melur menjelma menjadi perempuan yang bagaikan metamorfosis kupu-kupu.

Masih sama dengan novel sebelumnya rasa kesal, marah, sedih, khawatir bercampur baur. Kebingungan juga ikut melanda. Ketika Herman terus diminta penjelasan oleh Melur. Aku ikut khawatir ketika memikirkan bagaiman pergaulannya anak-anak.

Materi tentang balas dendam tetap saja masih diungkit. Ia khawatir jika Melur melakukan balas dendam masa lalu. Sedang Mami Lani sendiri sudah meninggal lama. Herman juga tidak mau jika harus membalas dendam. Tidak ingin sampai masuk dinginnya tembok jeruji.

Novel yang masih sarat akan kehidupan sosial di Jakarta di jaman modern yang ternyata tidak jauh dari tahun 80’an. Meski pemeran dan caranya agak berbeda, tapi inti semuanya masih sama. Gadis-gadis muda yang tergiur akan rupiah atau cowo ganteng demi mobil mewah. Tidak ada yang berubah. Malah lebih beraneka ragam motif untuk menjadi pelacur.

Lebih parah lagi kekasih yang seharusnya menjaga atau keluarga sebagai tempat paling nyaman menjadi mucikarinya. Sungguh miris dan lebih menakutkan. Orang tua pun tutup mata akan apa yang dilakukan anak-anaknya. Tinggal sama-sama di Jakarta tapi hubungan anak dan orang tua jauh sekali.

Masih banyak lagi isu sosial yang diangkat dalam novel ini. Satu hal yang membuatku benar-benar menangis tentang penghambaan kepada Sang Pencipta.



peREmpuan || Maman Suherman || POP || vi+189 hlm ||2014||Gramedia Digital

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email