Review Kumcer Ketika Saatnya

18 comments

Budaya Patriarki di Kumcer Ketika Saatnya


review kumcer ketika saatnya


Ketika saatnya merupakan kumpulan cerpen yang mengangkat budaya patriarki di Sulawesi Selatan. Cerpen yang akan membawamu marah, menangis, kesal dan sedih. 


Persoalan yang diangkat dalam kumpulan cerpen ini:


1. Perjodohan

2. Perselingkuhan

3. Uang Panaik

4. Pendidikan


Tentang Jodoh


Jodoh belum ada dukun bertindak


Pada cerpen Perempuan yang Terkunci Pintu Jodohnya. Aku merasa kesal ketika perempuan sudah berumur harus mendatangi dukun untuk membuka penghalang jodohnya.

Sebagai Penutub Aib keluarga


Cerpen Passampo Siri’, demi untuk menutupi aib keluarga, seorang kakak harus menerima pinangan yang ditujukan untuk adiknnya. Karena si adik lebih memilih orang yang dicintai dan kawin lari. Ia sendiri harus merelakan kekasihnya yang sedang mencari uang panaik.

Perselingkuhan


Seorang istri yang setia, berpendidikan tinggi kebingungan ketika menghadapi suaminya berselingkuh. Berbagai versi yang penulis ingin lakukan. Kenyatannya hanya duduk diam sambil menunggu suami pulang.

Uang Panaik vs Pendidikan


Ketika perempuan berpendidikan tinggi tapi untuk mendapatkan jodoh persoalan uang panaik (uang seserahan) menjadi halangan. Banyak yang batal menikah karena uang panaik yang tidak sesuai. Dan akhirnya akan menikah dengan orang yang sama sekali tidak dicintainya. Tidak hanya perempuan yang menjadi korban pihak laki-laki pun harus menyerah jika tak sanggup memenuhi uang panaik.

Semakin tinggi pendidikan perempuan semakin tinggi pula uang panaik yang harus diberikan. Kisah Anto yang harus merantau bertahun-tahun tetap gagal untuk meminang gadis dambaannya. Pada kisah Alaida seorang sarjana yang bersikukuh dengan uang panaik rendah, bimbang saat akan bercerai dengan suaminya yang selingkuh pada mantan kekasihnya.

Akibatnya jika belum menemukan yang sanggup memenuhi uang panaik, maka umur perempuan bertambah, bertambah pula gunjingan. Jika uang panaik sedikit, dipandang rendah oleh masyarakat. 

Pendidikan vs Masyarakat


Pendidikan tinggi menjadi trauma bagi masyarakat nelayan. Bukannya membawa nama baik keluarga, tapi malu yang didapatkan. Hal ini tidak membuat Petta Tiro batal menyekolahkan anak perempuannya yang bernama Sidar. Akhirnya Sidar bisa membawa perubahan di kampung nelayannya. Karena melanjutkan kuliah.

Dari cerpen ini banyak istilah adat Bugis, masyarakatnya, daerahnya dan juga makanan yang bisa menambah wawasan. Apalagi makanan ayam lengkuasnya sepertinya enak untuk dicoba hehehe

Ketika Saatnya dan kisah-kisah lainnya||Darmawati Majid||KPG||Cetakan Pertama, April 2019||vi+143 hal||baca via app@gramediadigital



#ODOP
#OneDayOnePost
#ODOPDay56

Related Posts

18 comments

  1. Kok aku jadi pengen baca ya, terus gimana setelah ketemu dukunnyanya udah ketemu jodohnya? Kwokwok uang panaik apa ya kak? Yg namanya selingkuh nggak bisa ditoleransi huufft, kenapa isi cerpennya semua bikin emosi? Kwokwok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang bikin emosi kak wkwkwk
      Uang panaik tuh seperti uang seserahan, nantinya untuk biaya hajatan. Jodohnya itu tak terduga ketemunya hehee

      Delete
  2. Nah, aku tinggal di Makassar kak. Banyak banget kejadian di sekelilingku orang2 yang tidak jadi menikah gegara uang panaik ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ada orang Makasar asli,,
      aku pun baru paham ketika baca kumcer ini

      Delete
  3. penasaran sama bukunya jadinya setelah baca tulisan kakak

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. Bagus kak, bikin kesel hehe

      Delete
    2. Wahh saya banyak teman org Makasar... Baru tahu loh ada budaya uang penaik hehehe... Beda budaya apa yaa

      Delete
    3. Coba tanyakan Ka vie, siapa tau karena nggak pernah cerita

      Delete
  5. Calon temenku dlunya jg gtu, kenal sma orang makassar minta uang penaik 1 M 😱

    ReplyDelete
  6. wah..jadi pengen baca..apalagi mengenai budaya patriarki, sepertinya menarik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kak. Aku memang suka dengan tema-tema seperti ini.

      Delete
  7. Bagus nih kayaknya, jadi memperkaya wawasan tentang budaya Indonesia. Tersedia pula di GD ya. Bulan kemarin sempet nggak langganan sih, mungkin bulan ini lanjut lagi.

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email