Review: Milenial & Turnover

4 comments

Milenial & Turnover, Komunikasi antara Generasi X dan Milenial


Milenial & Turnover, buku komunikasi antara Generasi X dan Milenial
pict by Gramedia Digital, IG: @sundulman, 
@babakkuindoneisa, @sonytan_1st & @yavie.andri


Buku Milenial & Turnover salah satu buku yang membahas komunikasi antara Generasi X dan Milenial. Dibahas menggunakan sudut pandang keduannya. Tidak saling membenarkan atau menyalahkan tapi mencari jalan titik tengah untuk bisa bekerjasama dengan baik dalam sebuah perusahaan.

Dulu aku pernah dengar seorang teman menceritakan bagaimana cara kerja anak milenial yang mudah masuk tapi mudah keluar juga. Ini di tempat kerja suaminya.Milenial jika sudah mengajukan resign, hari selanjutnya sudah pindah pekerjaan. Mileniel juga lebih sering menggunakan gadget dalam berbagai kegiatan. Termasuk saat rapat atau diskusi. Hal ini yang membuat risih kaum Generasi X.

Itulah obrolan ringan bersama rekan kerja dulu. Sampai aku membaca buku tentang sudut pandang Milenial dan Generasi X. Bisa memakluminya. Aku sendiri pun merasa campur aduk antara budaya Generasi X dan Milenial. 

Buku yang akan memberikan informasi mengapa anak milenial mudah sekali berpindah tempat kerja atau istilahnya trunover. Belum sampai dua tahun bekerja sudah mengajukan resign, kadang pula belum ada satu tahun. 


Review Buku
pict by Gramedia Digital

Buku Milenial dan Turnover ini menggunakan penyampaian tulisan mengikuti perkembangan jaman sekarang. Penulisan yang dilakukan seperti obrolan di podcast. Jadi tidak monoton seperti monolog. Lebih tepatnya percakapan dua arah antara Kang Maman dan Pak Sony sebagai penulisnya. Seperti obrolan kaum milenial. Jadi enak bacanya. Tidak terkesan menggurui.

Kesan yang ingin disampaikan adalah saling terbuka. Sepertinya yang disukai oleh Milenial. Dan untuk membiasakan Generasi X lebih sering ngobrol bersama rekan Milenialnya.

Perbedaan yang sangat gamblang adalah perkembangan teknologi dan informasi. Dulu Generasi X adalah generasi awal munculnya teknologi yang bernama komputer. Sedang Milenial, mereka yang mengalami perkembangan internet yang sangat pesat. Sistem komunikasi lebih cepat dari pada Generasi X.

Generasi X lebih suka komunikasi dengan email sedangkan Milenial lebih menyukai chat. Lebih cepat dan tidak ribet. 

Selama ini kita pikir uang adalah alasan utama yang mendorong orang pindah kerja padahal masih ada faktor pendorong lain yang sama pentingnya. 

Apa penyebab Turnover pada Milenial?


Push factor


Push factor keadaan yang mendorong karyawan untuk keluar dari pekerjaan. Hal yang mendorongnya adalah merasa tidak nyaman dengan kondisi sekarang. Misalnya,

  • Hubungan dengan atasan kurang harmonis.
  • Konflik berkepanjangan dengan rekan kerja.
  • Beban kerja berlebihan.
  • Values perusahaan berubah.
  • Jarak rumah ke kantor terlalu jauah.
  • Harapan tidak sesuai dengan kenyataan.
  • Kenaikan gajinya sangat terbatas.
  • Dan lain sebagainya.

Pull factor


Pull Factor adalah faktor penarik dari luar perusahaan yang menyebabkan karyawan ingin berpindah kerja. Karena mendapatkan tawaran kerja yang lebih menarik. Misalnya,

Tawaran gaji dan fasilitas, jenjang karis, kesempatan bekerja di luar negeri, fleksibilitas waktu kerja, dan lain sebagainya.

Turnover karyawan membuat kelabakan tim HRD untuk merekrut karyawan baru. Untuk merekrut tidaklah gampang. Karena akan ada peningkatan biaya, waktu, mencari potensi, belum lagi harus mengajari dari awal. Jadi sebisa mungkin para HRD harus jeli dalam menghadapi minimnya turnover karyawan.

Bagaimana tanggapan HRD dalam menghadapi Milenial?


Dengan kondisi turnover yang tinggi pihak HRD mencari inovasi dalam perekrutan karyawan. Jika pada generasi X, perusahaan yang dikejar-kejar. Karyawan yang membutuhkan perusahaan. Sehingga calon karyawan lebih banyak memberikan kesan untuk diterima.

Sebaliknya di generasi Milenial perusahaanlah yang membutuhkan mereka. Jadi tidak hanya karyawan yang harus memberikan kesan untuk bisa diterima oleh perusahaan. Tapi pihak HRD juga harus memberikan kesan bahwa perusahaannyalah tempat yang nyaman untuk bekerja.

Kesan pertama, mengontak kandidat


Cara rekrutkmen mengontak kandidat karyawan. Jika pesan yang disampaikan ramah maka akan kandidat akan merasa nyaman. Jika tidak ramah atau tidak profesional biasanya kandidat memutuskan mundur untuk tahap selanjutnya.

Kesan kedua, appoitment


Jadwal tes pada masa generasi X pasti mengikuti kapan perusahaan menginfokan jadwal pertemuannya. Berbeda jauh dengan Milenial. Mereka lebih suka bernegoisasi dalam pemilihan jadwal interview atau pertemuan.

Jika rekrutmen mau memberikan flesksibilitas jadwal, akan berdampak positif bagi kandidat. Mengesankan bahwa perusahaan tidak kaku. Jika negoisasi tidak berhasil, jangan harap kandidat mau datang untuk interview.

Tempat interview


Sekarang tidak lagi sekaku dulu ketika interview. Menunjukan kewibawaan perusahaan dan dilakukan pada ruangan yang tidak nyaman.Milenial menyukai interview yang memberikan kenyamanan. Kafe menjadi salah satu tempat favorit untuk generasi Milenial melakukan interview.

Di kafe orang nyaman untuk mengobrol berbagai hal. Kafe merupakan tempat generasi Milenial suka berkumpul. Tempat yang asyik untuk bebas mengeluarkan ide dan menguliknya.

Bagaimana komunikasi Generasi X dan Milenial?


Pak Sony yang merupakan ahli dibidang HRD dan mendalami tentang Milenial, dengan pengalamannya yang mumpuni memberikan tips berkomunikasi dengan Generasi X dan Milenial. Komunikasi antar generasi sangat diperlukan dalam bekerjasama.

Sikap Generasi X untuk bekerjasama dengan Milenial


Sikap dibawah ini yang perlu dikembang oleh Generasi X untuk bekerjasama yang nyaman dengan Milenial. Antara lain:

  1. Terbuka pada perubahan.
  2. Mau beradaptasi dengan kondisi yang ada.
  3. Tidak terjebak stereotip negatif tentang Milenial.
  4. Mau belajar hal-hal baru di bidang teknologi.
  5. Tidak baber.

Sikap Milenial untuk bekerjasama dengan Genarasi X


Milenial perlu mengembangkan sikap dibawah ini untuk tidak merasa membosankan dengan Generasi X. Antara lain:

  1. Rendah hati.
  2. Mau mendengarkan kisah pengalaman Generasi X.
  3. Mau beradaptasi dengan kondisi yang ada.
  4. Mau berbagi ilmu.
  5. Lebih sabar.

Baca buku Milenial & Turnover membuka wawasan kita untuk saling memahami antara Generasi X dan Milenial. Generasi X mau beradaptasi dengan perubahan dan Milenial mau bersabar dalam mendengarkan dan memberikan ilmunya. Apapun generasi, komunikasi adalah senjata utama untuk bekerjasama.

Milenial & Turnover||Sony Tan & Maman Suherman||KPG||2020||xxii+158 hal||ebook Gramedia Digital


Viandri
Seorang perempuan yang menikmati perjalanan. Suka berpergian sendiri. Selalu percaya bahwa Sang Pencipta tidak pernah meninggalkan sendirian.

Related Posts

4 comments

  1. Apa kabar dengan gen Z? :)
    Tertarik sekali membaca review tentang komunikasi beda generasi ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. di sini juga disinggung Gen Z, sepertinya mereka lebih aktif di internet.
      hanya disinggung sedikit gambarannya aja si

      Delete
  2. OTW cari bukunya di Ipusnas ah... Penikmat gratisan. hihi. Keren reviewnya mbaak

    ReplyDelete
  3. cari kak, bagus banget menurutku
    membuka pikiran kita agar enak berkomunikasi

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email