Menyisihkan Tugas Orang Lain agar Lepas Khawatir

2 comments


Menyisihkan tugas orang lain agar lepas khawatir


Menyisihkan tugas orang lain agar bisa melepaskan khawatir akan apa yang dipikirkan orang lain. Mengkhawatirkan bagaimana orang lain bersikap kepada kita atas perilaku yang kita lakukan, akan membuat diri kelelahan. Hal ini pernah aku rasakan beberapa tahun yang lalu.

Konsepnya aku selalu khawatir dengan ucapan, sikap dan tanggapan yang telah ku berikan pada orang lain. Saat mengeluarkan pertama kali biasa saja, tapi setelahnya suka aku pikirkan panjang kali lebar. Seringkali membuatku merasa menyesal kenapa melakukan ini itu.

Syukurlah jika perasaan itu sebentar munculnya. Ini seringkali menghantui lama sekali dan berulang kali. Keadaan ini tidak baik untuk terus-menerus dipendam dalam pikiranku. Masalah yang aku hadapi ini adalah hubungan interpersonal.

Cara Menyisihkan Tugas dalam Masalah Hubungan Interpersonal


Misalnya hubungan seorang ibu dengan anaknya soal belajar. Ibu seringkali menyuruh belajar jika anaknya tidak semangat atau nilai kurang. Hanya menyuruh belajar ini sudah memasuki tugas orang lain dan mengganggu.

Dalam teori psikologi Adler perlu mempertimbangkan dari sudut pandang “tugas siapakah itu?”

Jadi belajar itu tugas siapa? Orang tua kah atau anak? Tugas anak adalah belajar.

Kemudian cara mengetahui itu adalah tugas orang lain yaitu dengan cara memikirkan “Siapa yang akan menerima hasil akhir yang muncul akibat pilihan yang diambil?”

Jika anak tidak mau belajar baik di kelas atau di rumah yang akan menerima akibatnya, anak itu sendiri. Bukan orang tua. Jadi tetap belajar adalah tugas anak.

Seringkali orang tua mengatakan bahwa menyuruh belajar adalah demi kebaikan anak itu sendiri. Padahal tujuan melakukannya adalah untuk mendapatkan pujian dari keluarga, masyarakat atau kolega orang tuanya. Sebagai kebanggan orang tuanya bukan anaknya.

Biasanya orang tua hanya menyuruh anak tanpa mengetahui penyebab mengapa anak malas belajar. Menurut teori psikologi Adler sikap ini menggunakan pendekatan non-interferensi. Non-interferensi adalah sikap tidak tahu, dan bahkan tidak tertarik mengetahui apa yang sedang anak itu lakukan.

Pendekatan sebaliknya adalah yang mengetahui apa yang sedang terjadi pada anak itulah seseorang bisa melindungi. Jika masalahnya adalah anak malas belajar, maka orang tua harus mengatakan bahwa belajar adalah tugas anak. Memberitahukan akibat bagi anak jika tidak belajar. Katakan bahwa siap membantu kapanpun dibutuhkan tanpa mencampuri urusan anak.


Psikologi Adler “Konselor tidak mengubah klien, hanya engkaulah satu-satunya orang yang bisa mengubah diri sendiri”


Bagaimana dengan hubungan interpersonal? Ketahui dulu apa tugas kita saat berhubungan dengan orang lain. Misalnya wajah kita, jika kita selalu memikirkan komentar atau tanggapan orang lain terhadap wajah kita. Ini artinya kita belum memisahkan tugas kita. Tugas kita adalah mensyukuri memiliki wajah dan merawatnya. Komentar dan lain sebagainya adalah tugas orang lain.

Jadi tegaskan pada diri mana tugasku dan mana tugas orang lain. Jika masih mengharap tanggapan orang lain namanya kita membutuhkan pengakuan. Kita akan senang jika mendapatkan pengakuan. Akan hancur jika tak ada pengakuan orang lain. Maka hilangkanlah ini agar hidup lebih tenang.

Misalnya lagi seorang karyawan menjadi malas karena atasanya suka marah-marah. Merasa tidak dianggap oleh atasannya. Agar tidak bertindak seperti ini pikirkan pada diri bahwa tugasku adalah bekerja sesuai dengan prosedur. Untuk disukai atau atasan marah-marah adalah bukan tugas diri. Itu tugas orang lain.

Setelah aku mengetahui pembagian tugas, beban pikiranku berkurang. Tugasku adalah berhubungan baik, apa yang sedang atau terjadi pada orang lain yang diluar kendaliku itu bukanlah tugasku. Dengan cara ini aku merasakan ketenangan yang luar biasa.

Untuk bisa menyisihkan tugas orang lain tidaklah mudah. Apalagi aku yang sudah banyak terpendam dalam pikiran memerlukan waktu yang tidak singkat. Butuh agar terbiasa dan pelan-pelan melakukannya secara konsisten.


Refernsi

Berani Tidak Disukai oleh Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga


Viandri
Seorang perempuan yang menikmati perjalanan. Suka berpergian sendiri. Selalu percaya bahwa Sang Pencipta tidak pernah meninggalkan sendirian.

Related Posts

2 comments

  1. Saya bukan tipe orang yang perduli apa yang orang lain pikirkan tentangku. Bukan karena tidak perdulian, tapi karena itu sesuatu yang di luar kendali saya. Saya hanya fokus pada apa yang bisa saya kendalikan, yaitu diri sendiri.

    Yah, intinya mirip sama kata si Filsuf di buku Courage to be disliked ini. Itu bukan tugas saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayangnya aku tipe yang pedulian hihihi
      Makanya sering bikin penuh kepala...😂

      Delete

Post a Comment

Follow by Email