JurnalViandry

Tangisan Bapak

Post a Comment

 Keluarga Sundari yang tinggal di desa memiliki kebiasaan rutin tiap sore harinya. Sundari anak pertama dari tiga bersaudara. Adiknya dua laki-laki dan perempuan. Sore itu adalah tugas Ndari untuk menggiring unggas ke dalam kandang. Biasanya adik-adiknya sudah berangkat mengaji yang akan disusul Ndari. Ndari ini masih kelas dua SMP, sebagai anak pertama ia harus mengatur adik-adiknya untuk tertib.

Kedua orang tua Ndari bukanlah orang pendidikan. Pekerjaannya menggarap sawah. Pergi pagi buta sampai menjelang maghrib baru pulang. Tidak heran Ndari harus bisa bagi-bagi tugas dengan adiknya. Pagi hari sebelum berangkat sekolah harus ada yang menyapu halaman rumah, menyuci peralatan makan yang kotor dan memberi makan unggas.

Sore itu adalah hari Jumat. Biasanya keributan adiknya sudah memekakan gendang pendengaran Ndari. Sampai teriakan Ndari hampir membuat uratnya putus. Yang terlihat hanya ada adik laki-laki yang sedang malas-malasan berangkat ngaji. Orang tuanya belum sampai rumah, maklum sudah musim panen. Jadi kepulangan sedikit terlambat.

Ndari mencari adik bungsunya yang perempuan. Ia cari ke rumah bibinya, tempat biasanya main atau ke kali. Adiknya suka lupa kalau sudah main di kali. Nyatanya dipanggil-panggil tak ada sautan. Teman-temannya pun tidak ada yang tau. Adiknya masih kelas 2 SD, pikirnya kemana anak ini akan pergi.

Waktu maghrib hampir mepet, Ndari mulai ketakutan. Disuruhnya adik laki-lakinya agar batal berangkat mengajai. Ndari menyusul orang tuanya ke sawah, rasa waswas semakin menjadi. Orang tuanya lekas-lekas pulang, ditinggalkannya karunagan padi di pembatas sawah.

Bapaknya langsung ke orang yang memiliki ilmu tinggi. Dipikirnya anak bungsunya dibawa oleh penjaga Jumat sore. Kata si orang pintar dibawa oleh makhluk berwarna merah besar. Bapaknya langsung panik, memangging pamong desa untuk melakukan pengusiran makhluh merah tersebut. Warga laki-laki dikumpulkan untuk mengitari desa dengan memukul kentongan, tampah, dan alat dapur lainnya.

Pengusiran dilakukan sampai isya. Tanda-tanda akan kembalinya adiknya belum terlihat. Si orang ilmu tinggi ditanyakan lagi, katanya sudah mau dipulangkan. Disuruhnya tunggu saja sampai tengah malam, kalau sampai belum muncul dilepaskan saja.

Bapak orang yang selalu memperlihatkan ketegaran hidupnya, tidak pernah menampakan kekhawatiran masalah apapun yang melanda hidupnya. Sampai keluarganya menghina pun dibiarkannya.

Mendengar kabar tersebut, bapak langsung pucat pasi diam tertunduk. Tiba-tiba tetesan basah di pipi bapak mengalir bagaikan aliran kali samping rumah. Untuk pertama kalinya Ndari melihat tangisan bapak. Betapa sayangnya terhadap anaknya, meski mereka semua sering membangkang jika diperintah. Basah pipi bapaknya tidak mereda sampai entah kapan anaknya pulang.


Viandri
Seorang perempuan yang menikmati perjalanan. Suka berpergian sendiri. Selalu percaya bahwa Sang Pencipta tidak pernah meninggalkan sendirian.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email