Review Novel Kronik Betawi Karya Ratih Kumala

2 comments

kronik betawi
photo by https://ratihkumala.com/books/kronik-betawi


Novel kedua Ratih Kumala yang saya baca ini memberikan wawasan terhadap kebudayaan Betawi. Baik dari segi sosial, wilayah dan juga keadaanya sampai sekarang. Dengan gaya penulisannya yang apik membaca novel dengan unsur sejarah ini tidaklah berat, hanya kurang dari dua hari selesai membacanya. Tulisannya yang mengalir dengan logat Betawi yang kental sampai terngiang di kepala saya. 

Novel ini menceritakan tiga bersaudara anak betawi asli. Dari tiga orang ini memiliki penyampaian masing-masing yang penulis ingin sampaikan.

Bang Jaelani seorang yang memiliki pekerjaan usaha susu sapi. Usaha ini turun temurun dari orang tuanya yang memiliki peternakan sapi. Bang Jaelani satu-satunya yang melanjutkan dan berhenti pula pada dirinya. Bang Jaelani memiliki dua istri.

Istri pertama bernama Rima gadis yang dikenalnya ketika mengikuti kesenian gambang kromong. Rima adalah penarinya. Namun setelah menikah Rima berhenti menari. Dari Rima melahirkan tiga orang anak yaitu Juned, Jupri dan Enoh.

Istri kedua bernama Salomah, gadis keturuan Arab yang nyasar jadi suami orang Betawi. Salomah dinikahi oleh Jaelani beberapa tahun setelah meninggalnya Rima istri pertama. Jaelani tipe orang yang setia, beberapa kali dijodohkan oleh adiknya tak ada yang bisa menggerakan hatinya. Dari Salomah melahirkan satu orang anak laki-laki bernama Fauzan. 

Jaelani mempresentasikan bagaiman sebagai orang tua yang memiliki permasalahan terhadap kehidupan anak laki-lakinya yairu Juned dan Jupri. Sudah begitu mereka mempunyai watak yang sama, sama-sama ngeselin buat Jaelani. Dikasih usaha sapi malah ngojek. Katanya bau tai kalau ngurus sapi, mending ngojek. Dikreditkan motor, malah buat trek-trekan dan akhirnya kalah. Jaelani yang meyakini bahwa menjadi peternak sapi bisa menghidupi keluarga dan menjadi bos untuk dirinya sendiri. Sayangnya anaknya tidak mau melanjutkan.

Bang Jarkasi adik Jaelani tetap memilih jalur seni Betawi. Meski sampai penghasilan sebagai seniman seringnya nombok, tapi tidak menghentikan semangatnya dalam berseni. Meski begitu kehidupannya ditopang dengan menyewakan rumah petak untuk pendatang. Anak perempuan semata wayangnya memilih jalur seni juga. Jalur ini ditentang oleh istrinya Enden, tidak tega melihat anaknya dicolek-colek dan dikira bisa dipakai. Karena masyarakat mikirnya penari gak hanya menari.

Edah tetap dengan impiannya yaitu menari internasional. Sampai pernah ditipu akan berangkat ke Jepang yang ternyata penyalur pelacur. Untungnya Edah dan empat kawan lainnya menyadari keanehan di wisma.

Julaeha adik paling bontot. Permasalahan kehidupan Julaeha adalah sebagai istri pertama yang tidak memiliki anak. Dari Julaeha saya merasa kesal dengan suaminya Ji’ih. Karena lebih mementingkan pandangan keluarga dan masyarakat sebagai tokoh agama. Jiih menikah pun secara diam-diam, dengan alasan Leha tidak memberikan keturunan dan tidak diketahui oleh keluarganya maupun mertuanya. Julaeha yang memegang teguh agama berusaha untuk setia dan taat karena agama.

Kebanyakan orang Jakarta sekarang pada kurang paham, kalau menteng itu nama buah, Bintaro itu nama pohon dan kebun Jeruk, memang dulu di sana ada hamparan tanaman yang benar-benar jeruk buahnya. Para pendatang agaknya hanya kenal nama-nama itu sebagai kawasan gedongan.

 

Judul : Kronik Betawi

Penulis : Ratih Kumala

Ide cerita: Nugroho Suksmanto

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun : cetakan kedua, Juli 2009

Tebal : 253 hlm

Sumber ebook : Gramedia Digital

 

Viandri
Seorang perempuan yang menikmati perjalanan. Suka berpergian sendiri. Selalu percaya bahwa Sang Pencipta tidak pernah meninggalkan sendirian.

Related Posts

2 comments

Post a Comment

Follow by Email