Memilih Hidup Sehat

Post a Comment

tubuh

Bagian 1 : rasa bersalah pada tubuh dan pikiran

Sebenarnya melakukan diet sudah dilakukan ketika masih berstatus pelajar. Waktu itu ada teman yang mau mengajak aku diet. Niat itu untuk menurunkan berat badan. Jadinya pola makan tidak konsisten dan berat badan sama saja. Tidak ada dorongan kuat untuk terus menerus menjaga pola makan.

Seringnya makan yang berminyak, berpedas ria, kurang sayur, terlalu banyak makan daging ayam negeri, kurang minum air putih, minum softdrink. Inilah beberapa hal yang membuatku berrencana untuk memperbanyak minum air putih, makan sayaur dan buah.

Waktu itu pikiran yang carut marut ingin lebih teratur dan sungguh-sungguh menyadari apa yang sedang terjadi. Ini juga menjadi salah satu untuk mengubah menu makananku. Aku awalnya hanya belajar melalui postingan-postingan di instagram. Baik itu versi yang agama ataupun versi umum saja. 

Sebelum aku menata makanan dan pikiranku. Ada saja hal yang membuat berat untuk menjalaninya. Akan aku rangkum halangan untuk memulai dan cara mengatasinya: 

Pola makan yang ada di media sosial mahal

makan

Yang sering ku lihat menunya rasanya tidak sanggup untuk ukuran kantongku. Mungkin gaji sebulan hanya cukup untuk makan seminggu. Jika aku menggunakan bahan-bahan organik dan bernuansa luar negeri. Betapa tidak sanggupnya aku untuk melakukannya.

Kemudian apa yang aku lakukan agar ini tidak mempengaruhi dalam pola makanku? Aku memulai makan diatur sejak awal tahun 2020. Tanpa ada petunjuk dan ilmu kira-kiraku saja. Jadi aku memilih untuk beli bahan-bahan yang ada di pasar saja. Beli buah yang musiman. 

Di sini kita belajar mengetahui nutrisi yang tubuh butuhkan. Sehingga kita bisa memilah mana saja bahan makanan yang di sekitar kita sesuai dengan kandungan gizinya. Jadi intinya carilah asupan tubuh kita itu ya kandungan gizi. Bukan jenis bahan makanannya.

Pikiran pun bisa terarahkan untuk selalu berfikir bahwa makan yang masuk itu adalah yang paling baik.

Stigma masyarakat memakan yang sehat malah dibilang akibatnya

stigma
Stigma ini ku dapatkan jika terlalu banyak makan kangkung akan mudah ngantuk. Makan sayur bayam jadi reumatik atau apalah. Jadi setiap makanan yang sering ditemukan di pasar itu akan memberikan dampak kurang sehat pada tubuh. Padahal yang kurang bagus itu jika kita makannnya berlebihan.

Bagi makanan yang instan orang  kebanyakan bertoleransi yang tinggi akan dampak negatifnya. Misalnya makan mi instan, ayam negeri atau softdrink. Sepertinya akan berkata tidak apa-apa asalkan tidak keseringan. Itu saja. Padahal setiap mau mengonsumsinya pasti akan berkata seperti itu.

Inilah permainan kata-kata dan pikiran yang terjadi pada orang-orang di sekitarku. Dan sudah menjelma jadi hal biasa. 

Banyak komentar dari orang sekitar

komentar
Menu pilihanmu berbeda dengan orang pada umumnya. Hal ini menyebabkan sindirian, komentar tidak baik dan pastinya tidak ada dukungan. Sebenarnya mereka sadar makanan yang aku makan itu lebih sehat hanya saja belum berani konsisten jadinya lebih ke komentar. Agar aku bisa mengikuti kebanyakan orang.

Aku pun jadi berani menolak dan memberikan bagi orang baru maupun orang yang dekat denganku. Ini memicuku untuk menguatkan pikiranku dan keteguhanku akan keyakinan yang ku miliki. 

Bukan berarti aku tidak menghargai pemberian orang lain. Tapi bayangkan jika setiap ketemu orang kita disuguhkan makanan yang sedang dihindari tapi kita tetap makan, jadinya percuma. Sudah dikometari aneh, kalau kita makan juga dikometari. Percuma saja menjaga pola makan tapi disuguhi makanan junkfood tetap dimakan.

Kesabaran dalam menjelaskanlah harus dipertahankan. Mengapa semua orang harus disamakan pada pilihan hidupnya? Kita bisa kok untuk menghargai tapi bukan memaksakan kehendak masing-masing. Bukankah aktifitas makan itu sudah merupakan persamaan? Ya sudah terima juga perbedaan menu makannya.

Bagi kita yang berbeda menu makanannya, jangan memaksakan orang lain menyajikan apa yang kita mau. Tapi siasati dengan membawa bekal sendiri dan makanlah yang bisa dimakan pada sajian yang dihidangkan.

Tiga hal di atas yang membuatku tidak patah arang dalam menjalankan pola sehat. Kita yang bertanggung jawab terhadap pikiran dan tubuh kita. Jadi jagalah selagi masih baik-baik saja. Jangan menunggu rusak baru kita mau memulainya.

Selanjutnya adalah tujuan memilih hidup sehat. Kalau tujuannya untuk diet, aku jamin itu akan mudah menyerah. Bayangkan tidak mudah untuk menurunkan berat badan dengan cepat dan makanan kita konsisten.

Niat yang aku lakukan adalah seperti bagian pertama ini mengatur pola makan dan pikiranku agar lebih tenang. Jadi untuk melakukannya tidaklah terbebani. Efeknya tidak hanya terjaga makananya juga berat badan turun.

 

#ODOP

#OneDayOnePost

#ODOPDay46

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email