Seni Menjalani Hidup Adaptasi terhadap Keadaan

4 comments
Setiap orang memiliki caranya sendiri dalam menjalankan seni menjalani hidupnya. Termasuk saya yang harus bisa beradaptasi dengan tempat baru. Saya yang terbiasa bertemu dengan kawan-kawan di akhir pekan atau mengunjungi saudara. Menjadi bosan ketika setiap pekan tidak ada tempat untuk berkunjung. 

Akhirnya seseorang mengajakku untuk jalan-jalan setiap akhir pekan. Kami memilih jalan Pusuk, penhubung antara Kota Mataram atau Lombok Barat dengan Kabupaten Lombuk Utara. Jalanan pusuk ini berkelok-kelok dan menanjak. Sebelah sisi bisa jadi tebing atau jurang. Lumayann ekstrim jalannya memang. Inilah jalan penghubung utama. 

Selain itu kita bisa melihat monyet-monyet yang lucu di pinggi jalan. Hutan Pusuk namanya, para monyetnya ada yang besar atau sambil bawa anak. Saya lihat beberapa orang memberikan makanan. Tapi monyet ini tidak mengganggu perjalanan orang berpergian.

Cerita Saya dalam Seni Menjalani Hidup


Perama Kali Menguliti Melinjo

seni menjalani hidup

Sepanjang jalan kami menemukan penjual melinjo biji beserta kulitnya, gula aren dan tuak. Dan hasil kebun yang saya tidak tahu namanya. Karena Pusuk menjadi salah satu daerah pembuat gula aren. Tetapi bukan itu yang kami tuju. Teman saya memilih melinjo sebagai bahan cemilan. 

Saya awalnya heran kenapa dalam sajian ada melinjo beserta kulitnya dihidangkan? Ternyata memang sudah menjadi makanan khas Lombok. Sebagai orang Jawa yang makan biji melinjo sebagai emping dan kulitnya sebagai sayuran. Itu aneh melihatnya. 

Sebagai orang yang pernah merasakan enaknya oseng kulit melinjo di campur dengan pepaya muda, pedas manis. Sedap rasanya. Di sinilah seni mejalani hidup. Saya yang biasanya hanya tinggal makan, kini harus berusaha menguliti si melinjo.

Saya ingat-ingat caranya, apa yang saya coba ingat? Ketika saya pergi ke pasar menemani mama belanja. Karena tahu anaknnya suka kulit melinjo maka dibelilah si kulit melinjo. Kebetulan sekali si penjualnya sedang menguliti melinjo. 

Saya yang orangnya suka penasaran, saya perhatikan dengan mematung. Sambil mengobrol si penjual dengan cekatannya tanpa mengenai jarinya. Ilmu inilah yang akhirnya saya praktikan. Ternyata hanya menguliti melinjo tidak segampang si penjual. Tidak bisa cekatan, kuku jempol saya sampai pegal.

Demi untuk menikmati oseng kulit melinjo, saya akhirnya bisa mendapatkannya. Hasil masakannya belum jadi, capek ngulitinya.


Menghemat Biaya Salon


Seni Hidup

Seni lainnya. Ketika merantau dengan keuangan pas-pasan dan kebetulan pulang ke rumah juga lupa tidak memotong rambut. Akhirnya saya potong sendiri rambut yang panjang. Kepanjangan itu menghambat buat keramas dan lama keringnya. Percobaan pertama kali selain diriku adalah adik kandungku sendiri, hasil lumayan menghemat kantong ke salon.

Kebetulan hari ini saudara saya ajak ke rumah untuk menemani saya. Kemudian mereka meminta saya untuk memotongkan rambutnya. Saya katakan saja bahwa hanya bisa satu model, tidak lebih. Pokoknya bisa dikucir, cukup sudah bagiku. Kebetulan sekali baru seminggu ini saya potong rambutnya, kuperlihatkan hasil potonganku. Ternyata mereka mengiyakan, ya sudah apa boleh buat. Saya sih suka-suka saja bermain gunting untuk kres kres. Hasilnya semoga tidak mengecewakan.

Saya tidak pernah diajarkan untuk memotong rambut. Ketika saya mencoba menggunting rambut kepala sendiri hanya mengingat-ingat waktu kecil, anak perempuan orangtua kami akan dicukur oleh bapak. Cukuran khasnya adalah model mangkok. Saya perhatikan caranya dan saya kombinasikan dengan pencukur yang lebih ahli. Setelah saya kecewa dengan hasil cukurannya bapak, saya memilih memanjangkan rambut. Ketika memiliki tetangga yang ahli mencukur rambut, jadilah saya pelanggannya. Di sinilah saya memperhatikan caranya dan saya praktikan untuk diriku dan saudara saya.

Seni menjalani hidup lebih banyak di dapatkan pada kehidupan masyarakat umum. Tidak ada yang mengajarkan semua hal cara bertahan dalam hidup. Ilmu hidup bisa dari siapa saja. Mungkin waktu itu kita menyepelekan, tapi saat dikondisi tak terduga tanpa kita sadari itu menjadi ilmu yang harus di syukuri. Tidak ada di bangku pendidikan diajarkan menguliti melinjo, memotong rambut juga hanya di kelas jurusan kecantikan. Lingkungan sekitarmulah bisa menjadi ilmu yang sangat berguna.

Mungkin sebuah keahlian yang tidak berdampak besar kelihatannya sepele, namun jika hal sederhana itu tidak ada di sekitar kita, akan menjadi sebuah kesusahan. Sekecil apapun keahlian diri itu tetap berdampak pada kehidupan.
Viandri
Hai, saya seorang yang menyukai baca buku. Sedang belajar menulis dan senang berbagi kesan di sekitar.

Related Posts

4 comments

  1. Mbaak...aku jadi pingin tau rasanya menguliti melinjo...seringnya aku makan kripik blinjonya tanpa tau proses awalnya..ihihhiih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keripik melinjo tuh emping?
      Ya begitulah mba, sepertinya memperhatikan orang lain dulu ketika menguliti. Gak bisa dijelaskan. Hehehe

      Delete
  2. pengen lihat foto monyetnya Lombok, selucu apa sih, kwkwkw

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email