Perjalanan Mengenal Diri Sendiri

27 comments

Mengenal diri sendiri

Akhirnya hari yang mendebarkan akan datang, permulaan untuk melangkah jauh dimulai. Hari ini tepatnya adalah kelulusan aku beserta teman-teman SD-ku. Aku begitu bergembira dengan janji bapakku, aku akan mendapatkan sepeda untuk pertama kalinya. Di keluargaku untuk mempunyai sepeda sendiri harus melanjutkan sekolah.

Mulai Mengenal Diri Sendiri Sejak SMP


Sekolah menengah pertama adalah gerbang untuk kemandirianku. SMP yang dituju bukanlah yang favorit, sekolah ini cukup terkenal untuk teman-teman desaku. Mungkin juga salah satu sekolah negeri yang paling dekat. Biasanya yang sekolah di sini seringkali turun temurun, entah dari buyutnya atau dari keluarga besarnya.

Tanpa aku sadari membiasakan keberanian dalam hidup sudah ku lakukan sejak dulu. Aku mempersiapkan berkas sendirian, pergi untuk mendaftarkan pun tanpa keluarga hanya bersama teman-teman. Fokus tujuan aku adalah menjalani suasana baru dengan orang-orang baru pula.

Untuk pertama kalinya aku merasakan sensasi jalanan ramai, menyebrang jalan dan menaiki sepeda baruku. Sebenarnya sepeda yang dibelikan bapakku adalah bekas yang masih layak pakai, tetap saja itu adalah rezeki yang patut disyukuri. Aku sadar diri bahwa orang tua tidak hanya membiayai hidupku. Jadi aku tidak pernah mengeluh dengan apa yang ada. Itu adalah hal yang aku syukuri apapun yang diberikan orangtuaku. Selagi fungsinya sama, tidaklah aku perdebatkan.

Pada hari itu adalah pengumuman kelolosan. Aku bersama teman-teman SD berangkat bersama-sama. Mengendarai sepeda masing-masing, sambil mengobrol sana sini. Sesampainnya di papan pengumuman langsung ku cari namaku, akhirnya aku lolos. Hari itu untuk pertama kalinya aku berkenalan dengan seorang siswi dari salah satu SD di desaku. Aku pun belum pernah melihat bentuk SD-nya atau lokasinya dimana. Aku hanya anak desa yang suka main di RT rumah saja.

Dia seorang perempuan yang ramah, mau mengajakku mengobrol kesana kesini. Sampai akhirnya kita satu kelas dan satu bangku. Tak disangka duduk sebangku sampai kelas tiga SMP. Pastinya aku tidak sekelas dengan teman SD-ku waktu kelas satu. Asyik sekali bisa memiliki teman-teman yang berbeda-beda daerah.

Kelas satu kami belum terlalu dekat, meskipun sebangku. Aku tidak suka untuk segera akrab dengan orang baru. Dia juga sering bersama teman SD-nya kalau pulang sekolah. Aku kadang bersamanya kadang sendiri. Ketika kelas dua, meski diacak, entah kenapa kita masih satu kelas. Meski ada temanku dari sekolahku dulu tetap tak bisa begitu dekat. Mulailah aku menyadari pada apa-apa yang teman sebangkuku lakukan.

Dari teman-teman SMP inilah aku memiliki tujuan untuk apa sih sekolah. Mereka mengajakku untuk belajar, sholat bersama, memiliki rencana sekolah di mana dan juga mereka suka ke perpustakaan. Pastinya ini membuat aku dekat dengan mereka.

Tempat favorit kami perpustakaan, mushola dan tempat foto kopi waktu kelas tiga. Maklum kalau kelas tiga banyak soal-soal yang harus dikerjakan. Di perpustakan yang ku cari pertama kali adalah MOP(majalah untuk pelajar), langsung dibuka bagian cerpennya.

Kelulusan kelas tiga diumumkan dan aku tidak sabar untuk ke sekolah selanjutnya. Harapanku masih sama, tidak mau satu sekolah atau satu kelas dengan temanku dulu. Aku ambil sekolah di beda kecamatan. Teman sebangkuku memilih beda kabupaten. Karena dia pintar , jadi sudah jauh-jauh hari memilih sekolah favorit. Aku sekolah dengan teman dekatku juga. Tetapi kami di sekolah pun tidak bersama. Bukan menghindar, aku memilih kawan baruku, jurusan dan kelas kami berbeda. Bukan berarti hubungan kami renggang. Kami memilih kehidupan masing-masing.

Kehidupan di SMA Mentargetkan Merantau


Kebanggaanku akan SMA karena cukup favorit dan juga beda kecamatan. Tidak ada janji dari bapakku, akan dibelikan atau akan memiliki apa. Aku sendiri tidak mengharapkan dan tidak memikirkannya. Karena bagiku disekolahkan dengan tidak memusingkan pembayaran sudah membuatku bersyukur, meski sering telat. Itu tidak mempengaruhiku untuk malu berteman, sebenarnya aku pun tak memiliki banyak teman. Aku pusing jika harus terlibat berbagai persoalan yang membuat renggang hubungan. Aku suka menghindari permasalahan pertemanan. Tergolong sangat cuek terhadap lingkungan sekitar. Info terbaru teman-teman juga selalu telat, tidak mengikuti perkembangan kehidupan sosial teman sekolahku.

Sekali lagi aku memiliki teman tiga tahun bersama meski hanya sebangku di kelas dua dan tiga. Menurutku dia orang yang baik dan tidak aneh-aneh. Meski begitu kita hanya dekat di lingkungan sekolah. Kita berbeda di lingkungan luar sekolah. Aku baru menyadari sepertinya aku tak pernah bermain bersama di luar sekolah.

Kehidupan SMA tidak begitu aku sukai. Aku memilih buku menjadi temanku, mereka hanya diam, tak memberontak hanya memiliki emosi dari penulisnya. Aku memiliki teman dekat tapi kami memiliki tujuan setelah lulus yang berbeda. Keputusan mereka tidak mempengaruhi kehidupanku. Aku lebih suka memilih teman dan tempat baru.

Di SMA-lah aku merasakan betapa nikmatnya bisa membaca buku sepuas hati. Meski aku bukanlah anak nakal, bukan berarti aku mematuhi semua aturan. Aku selalu menyimpan novel di dalam laci bangku. Untuk aku baca ketika jam pelajaran, apapun mata pelajarannya. Tempat ternyamanku adalah perpustakan. Setiap pagi yang ku cari adalah koran terbaru dengan berita kejadian seluruh dunia atau tokoh masyarakat yang memiliki kegiatan bermanfaat untuk orang lain. Perpustakan juga tempat yang enak untuk tidur.

Kelulusan SMA diumumkan. Aku berpisah dengan teman-temanku. Aku memilih merantau, di mana di kampusku ini tidak ada teman satu sekolah.

Penutup 


Aku memilih jalanku sendiri dan membiarkan sekitarku bergerak sesuka mereka. Tempat dan suasana baru adalah cerita yang membuatku penasaran. Meski begitu aku tak pernah melupakan teman-temanku yang lama, mereka ada di ruang memoriku khusus mereka.

Aku pun sekarang tinggal di tempat yang sepengetahuanku sama sekali tidak ada teman-teman lamaku. Aku percaya pada Sang Pencipta, bahwa aku dipertemukan dengan orang-orang baik pada waktu dan tempat yang ku jalani. Mereka adalah orang-orang yang mengisi hari-hariku dengan kebaikan dan cara pandang yang mengagumkan. Allah tidak pernah meninggalkan hambanya sendirian.

Sekarang pun aku tak menyangka dipertemukan dengan seseorang yang membiarkanku bergerak, berkembang dan melakukan apa yang ku suka. Mengarahkan kehidupanku, menegurku jika aku keliru dan meluruskanku jika aku salah belok. Semesta bergerak dan aku pun bergerak beriringan bersamanya. Dia dengan dunianya, aku dengan duniaku, kami persatukan dengan saling mengisi dunia kami yang sama.
Viandri
Hai, saya seorang yang menyukai baca buku. Sedang belajar menulis dan senang berbagi kesan di sekitar.

Related Posts

27 comments

  1. Aku dulu juga suka baca MOP 🤣 permah kirim rubrik puisi dan cerpen juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinua MOP sudah tidak ada, atau aku yang sudah lama tidak mencari informasinya.

      Delete
  2. Keren kakak, ujungnya happy ending... syukak 😍

    ReplyDelete
  3. keluar dari zona nyaman, mencari dunia baru tanpa sosok teman adalah keberanian. karena disana kita akan menemukan sosok-sosok baru dalam petualangan hidup kita. :)

    ReplyDelete
  4. Keren, Kak ceritanya. 😊

    Maaf, ada beberapa typo di sini. Antara lain:

    1. bapakku, tidak kapital karena merupakan orang ketiga dan tidak dalam dialog.
    2. kemandirianku, merupakan kata ganti milik.
    3. membiayai, kurang huruf i tadi.
    4. ke sana ke sini, dipisah tidak disambung.
    5. meskipun, disambung tidak dipisah.
    6. di mana, dipisah tidak disambung.

    Mohon maaf apabila kurang berkenan. Sukses selalu. 🙏😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap kak, terima kasih sekali atas koreksinya.

      Delete
  5. Mantaps.. kalo aku ga suka jalan sendiri hihi

    ReplyDelete
  6. Perpisahan adalah awal dari perjumpaan

    ReplyDelete
  7. ceritanya ngalir.. Jadi bertanya-tanya, ini tentang diri sendiri atau fiktif? hehehe

    ReplyDelete
  8. Menikmati ceritanya dari awal sampai akhir. Sukaaa

    ReplyDelete
  9. cerita yang mengalun syahdu. mengalir dan enak dibaca, membuatku bersemangat membaca

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah, terima kasih kak.

    ReplyDelete
  11. Terakhirny happy semua ya... Selamat kak...

    ReplyDelete
  12. Aku berasa anak manja banget kalau baca ceritanya kak Novia ini kwokwok

    Suka sesuatu yang baru berarti penyesuaian diri dengan lingkungannya cepet ya kak

    Suka banget sama ceritanya inspiratif banget kak, gimana dari kecil udah terbiasa mandiri sampai punya pikiran dewasa dari SD mantap kak 😍😍😍 panutan

    ReplyDelete
  13. Janganlah gitu..hehehe
    Kalau beda kan seru buat obrolan 😍

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email