Apresiasi

4 comments

apresiasi
edit by canva
Malam ini Vani seharusnya belajar, tapi entahlah yang ada dalam pikiran anak perempuan ini. Sebentar lagi ujian SMA akan berlangsung. Vani sadar diri bahwa ia tak memiliki penghargaan selama tiga tahun sekolah. Bukan ia tak ingin, menurutnya ia merasa sekolah hanya tuntutan masyarakat umum saja. Orang sekitarnya hanya menginginkan naik kelas, nilai bagus, rangking dan nilai-nilai ilmu pengetahuannya bagus.

Sayangnya ia masuk kelas ilmu sosial. Misal masuk ilmu pengetahuan otak logikanya tidak sampai juga. Ia mempertanyakan apa gunanya sekolah? Apakah untuk lanjut sekolah lagi atau kerja? Pekerjaan apa yang didapatkan anak SMA tanpa skill? Semisal kuliah, apa yang akan didapatkan? Untuk mencari pekerjaan dengan ijazah sarjana.

Entahlah Vani belum menemukan apa yang harus dilakukannya, yang membuatnya merasa senang dan tertantang. Meski Vani menyukai baca buku, tapi tak terbesit dalam dirinya untuk bisa mengembangkan bakatnya. Mungkin karena ia tak memiliki orang yang bisa diajak diskusi. Orang tua Vani hanya menginginkan sekolah setinggi mungkin dan mendapatkan pekerjaan yang mapan.

Dengan ketidakadaan skill selain hanya sekolah. Vani tetap berusaha untuk lulus ujian SMA. Daripada ia bingung mau kerja apa, ia memilih untuk melanjutkan kuliah saja. Itu lebih jelas tujuannya dan bisa memberikan semangat untuk belajar.

Sebenarnya melanjutkan ke perguruan negeri masih menjadi tanda tanya. Untuk apa kuliah jika ujung-ujungnya hanya untuk syarat melamar pekerjaan. Vani tak tahu apa yang ia inginkan.

Pada suatu hari Vani menemukan kegiatan yang menimbulkan gejolak dalam dirinya, meski ia ragu tapi tetap dilakukkannya. Ia menemukan kesenangan dalam dunia masak. Di umur setelah lulus kuliah ia menemukan rasa tantangan. Pertanyaan masih menggelutinya. Apakah salah menjadi tukang masak? Dengan lulusan sarjannaya? Apakah salah jika ia tak memiliki pekerjaan keren dan penghasilan keren pula? Aah kenapa juga ia harus memikirkan kata orang lain. Bagaiman dengan orangtuanya? Yang menginginkan pekerjaan mapan. Ragulah ia untuk melanjutkan.

Beruntungnya Vani bertemu dengan komunitas masak. Di sana ia bertemu dengan orang yang memilik latar belakang berbeda-beda. Akan tetapi ia minder dengan seorang yang dibawah umurnya sudah memiliki pengalaman lomba kuliner dan memiliki kedai yang selalu ramai.

Bagaimanapun juga Vani merasa beruntung karena di sanalah ia mendapatkan apreasiasi atas kegiatannya yang menyenangkan yaitu masak. Dari sana ia belajar, siapapun kamu jika ingin melakukan sesuatu hal yang diinginkan akan selalu memiliki dua sisi, entah dikritik atau diapreasisi. Vani sadar bahwa untuk bisa menjadi  ahli pada suatu kesukaan tidaklah mudah. Apapun yang terjadi di lingkungan sekitar Vani tetap berjalan dengan pilihannya. 

Apresiasi yang didapatkan Vani adalah sebuah rasa nikmat oleh orang-orang sekitarnya atas hasil masakannya.

 

#ODOP

#OneDayOnePos

#ODOPDay22

 

Related Posts

4 comments

  1. Belajar dari Vani, aku jadi harus berani menyuarakan kepada khalayak umum tentang kemampuan menulisku dan berlapang dada untuk dikritik haha semangat Vani, semangat aku, dan semangat kak Vian xD

    ReplyDelete
  2. hehehe semangat kak, yups kita sudah mulai menyuarakan menulis lewat ODOP

    ReplyDelete
  3. Semangat Vani... Keren pesan tulisannya aku sukaa

    ReplyDelete
  4. Oke kak Vie, nanti aku bilangin ke Vani

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email