JurnalViandry

Antara Aku atau Mantan Menantumu

Post a Comment

pernikahan

Hari itu adalah waktuya Vani untuk kembali ke tanah rantau. Seperti  biasa ia menggunakan kendaraan umum. Setelah hampir seminggu menikmati lebaran di kamp
ung halaman, bersama keluarga yang dikunjunginya setahun sekali. Rasanya jarak rumah dengan tanah rantau seperti dekat saja. Karena bisa perjalanan dua malam dua hari saja cukup untuk pulang pergi.

Sebelum balik, kebetulan Vani sudah menyimpan nomor telepon kondektur bus. Ia tidak mau ribet mendatangi agen bus yang suka enggak jelas. Kebetulan sekali ada kursi kosong untuknya. Sekitar jam sembilan malam, ia berangkatnya. Bersyukur ia duduk dengan seorang ibu-ibu. Lega rasanya bisa tidur sepanjang perjalanan.

Siapa sangka ia akan mendapatkan kisah hidup yang menggugah emosi dan pikiran. Dari sekedar menyapa dari mana dan mau ke mana, jadi melebar ke mana-mana.

Seperti biasanya Vani orangnya seperti itu, sekiranya ada orang yang kelihatannya baik ia berusaha mengobrol. Kebiasaan Vani agar tidak jenuh di perjalanan seorang diri.

Berceritalah ibu satu anak ini. Ia bercerita bagaiamana perjuangan hidupnya di tanah rantau yang sama seperti Vani. Dari pekerjaannya yang ini itu dan sampai akhirnya menjadi ibu rumah tangga.

Sebelum menikah ibu satu anak ini memiliki seorang kekasih yang berada di kampung halamannya. Ia seorang yang baik, namun sayangnya ibu satu anak ini kurang cocok dengannya. Entah apa yang kurang disukainya atau karena si cowoknya terlalu memaksa segera menikah? Entahlah Vani tidak mau bertanya-tanya. 

Mengalirlah kisah asmaranya. Ketika masih di rantau ia berkenalan dengan suaminya sekarang. Ia tau kalau perempuan ini  sudah punya kekasih, mungkin sebentar lagi akan menikah. Akan tetapi sebagai laki-laki yang siap untuk memiliki, ia perjuangkan cintanya. Datanglah ia ke rumah perempuan yang jauh di sana. Bukan berarti pegorbanannya untuk  bertanya ke orang tua perempuan diterima dengan mudah, ia dihadapkan pada adat. Terlalu berani untuk melangkah jauh ke jenjang pernikahan, sedangkan si perempuan sudah ada calon.

Hubungan akan menyatu jika kedua sisi saling menguatkan dan berkorban. Kaburlah perempuan ini dengan cara tidak memberitahukan alamat dan no hpnya. Orangtuanya hanya tau kota rantaunya. Akhirnya orantuanya sadar bahwa pernikahan tidak harus melalui perjodohan. Diberilah restu dari orangtuanya.

Ibu satu anak ini akhirnya tinggalah jauh dari keluarga besarnya, ia sendiri di keluarga suaminya. Orang yang ia percaya, teman curhat dan sandaran hanyalah suaminya. Menikah jika belum mendapatkan tantangan sepertinya belum afdol. Setelah pernikahan bukannya sambutan senyum manis dari ibu mertua, malah sebuah sinisan dan cibiran.

Pernikahannya terlalu sederhana, tidak seperti pernikahan pertama anak laki-lakinya. Tidak secantik mantan menantunya. Terlalu anak desa. Kenyataannya resepsi yang mewah, menantu yang cantik meninggalkan utang dan meninggalkan anak laki-lakinya karena pekerjaannya yang serabutan. 

Ibu mertuanya sangat menyukai pujian  dan memamerkan. Jika mendapatkan orang yang menyebalkan pasti akan mendapatkan orang yang menenangkan. Ayah mertuanya sangat tahu sifat istrinya yang cerewet dan suka pamer, maka ia perhatikan kebutuhan menantuny apa saja. Misalnya membelikan beras, minyak atau apapun yang sekiranya tidak ada di dapur.

Seringnya dibandingkan dengan memperlihatkan foto-foto pernikahan mantan menantunya dulu. Ia tidak memiliki album pernikahan hanya sebingkai foto bersama keluarga besarnya.

Kecemburan dan kemarahan pada ibu mertua tidak tertahankan, ia ambil album kenangan pernikahan mantan menantunya.

“Pilih aku yang menjadi menantumu sekarang dengan menerima keadaan anak laki-lakimu,  yang berpenghasilan seadanya. Maka bakarlah album kenangan itu atau simpanlah albumnya dengan mengharap mantan menantu yang  meninggalkan utang dan meghinakan anak laki-lakimu?”

Kagetlah seluruh keluarga suaminya. Sebenarnya ibu mertuanya menyadari akan menantunya sekarang lebih baik dari dulu, karena sifat sombongnya itulah ia belum bisa menerimanya. Tidak mungkin ibunya menjauhkan ibu satu anak dengan anak laki-lakinya. Dengan berat hati dibakarnya album kenangan di depan menantunya.

Melepas dari rumah mertua adalah sebuah kelegaan yang tiada kira. Meski begitu ibu mertuanya belum sepenuhnya baik.

Masalah ada lagi ketika mantan istri suaminya ingin kembali, karena suaminya sudah memiliki rumah dan jabatan di desa. Sebenarnya kalau si mantan tau, bahwa setiap tengah bulan sudah kehabisan jatah bulanan.

Sampailah ibu satu anak di pemberhentian, Vani kembali melanjutkan perjalanan ke kota.

#ODOP

#OneDayOnePost

#ODOPDay18

Viandri
Seorang perempuan yang menikmati perjalanan. Suka berpergian sendiri. Selalu percaya bahwa Sang Pencipta tidak pernah meninggalkan sendirian.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email